Harian Cakrawala – Pemerintah pusat dan daerah terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
“Berdasarkan perkembangan per 21 Oktober 2026, lahan seluas 7.219 hektare (ha) masih dalam penanganan di wilayah Sumatra, yaitu Sumatra Selatan dan Jambi. Penanganan lahan terdampak di Sumatra Selatan seluas 5.194 ha dan sisanya di Jambi. Riau tidak terdeteksi adanya lahan terbakar,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Kamis (22/10/2026).
Sementara itu, di wilayah Kalimantan, luas lahan yang masih dalam penanganan mencapai 11.202 ha, meliputi Kalimantan Tengah 7.938 ha, Kalimantan Selatan 1.974 ha, dan Kalimantan Barat 1.290 ha.
Penanganan karhutla dilakukan melalui optimalisasi operasi darat dan udara. Dukungan udara berupa pengeboman air (water bombing) dan operasi modifikasi cuaca terus diintensifkan untuk membantu pemadaman titik panas dan titik api.
Selain di lima provinsi tersebut, BNPB bersama pemerintah daerah juga menangani karhutla di sejumlah wilayah lain, yakni Kalimantan Timur, Ibu Kota Nusantara (IKN), Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Total luas area terdampak di wilayah-wilayah tersebut tercatat 1.243,70 ha.
Siagakan Layanan Kesehatan
Dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lahan, tetapi juga penurunan kualitas udara yang mengancam kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapan layanan kesehatan untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, mengatakan pemerintah telah menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. “Untuk penyiapan layanan kesehatan, tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan, seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan,” ujar dr. Suyanti.
Selain puskesmas, Kemenkes memastikan kesiapan logistik kesehatan, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) untuk mendukung penanganan dampak karhutla. “Pemerintah daerah juga telah menyiapkan rumah oksigen sebanyak 491 rumah oksigen yang sudah tersedia di masing-masing wilayah,” kata Suyanti.
Kemenkes juga memantau kesiapan sumber daya manusia kesehatan, termasuk 18.547 dokter umum dan sejumlah dokter spesialis, seperti spesialis mata, paru, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), serta dokter spesialis dermatologi dan venereologi (DVE).
Masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.
Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 kasus sejak 18 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 258.298 kasus terjadi pada penduduk berusia di atas lima tahun dan 75.172 kasus pada anak berusia 0–5 tahun.
Kasus tersebut tercatat di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi.
Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kemenkes pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah daerah berada dalam kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di atas 300.
Paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan senyawa organik beracun yang dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan asma hingga penyakit paru. Paparan tersebut juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Kemenkes mengimbau masyarakat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang terintegrasi dalam aplikasi SATUSEHAT.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, memperbanyak minum air putih, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami sesak napas atau batuk yang memburuk. “Kita harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” tambah Suyanti.





