Pedagang Pasar Kuala Simpang Kembali Bangkit setelah Terpuruk Pascabanjir

Para pedagang di Pasar Kuala Simpang, Jalan Cut Nyak Din, Aceh Tamiang, Rabu (14/1/2026), sudah mulai berjualan sembari membersihkan lumpur pascabencana banjir. (Foto Dherma Chaelvianto/InfoPublik Kemkomdigi)

Harian Cakrawala – Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang menyisakan duka panjang. Air bah datang cepat, merendam pasar, pertokoan, dan permukiman dalam radius lebih dari lima kilometer dari bantaran sungai.

Di Pasar Kuala Simpang, Jalan Cut Nyak Din, lumpur cokelat pekat menutup hampir seluruh lantai kios. Sampah bercampur sisa dagangan menjadi saksi betapa mendadaknya bencana itu datang.

Para pedagang tak menunggu lama. Dengan sekop, ember, dan tenaga seadanya, mereka mulai membersihkan kios secara manual siang dan malam.

Di lantai satu pasar, Naf­siah menghela napas panjang sambil menyapu lumpur yang mengeras. “Kerugian material Rp80 juta sampai Rp100 juta,” ujarnya lirih saat ditemui, Rabu (14/1/2026).

Naf­siah bukan satu-satunya. Banyak pedagang kehilangan hampir seluruh modal usaha. Sebagian bahkan tak mampu menghitung kerugian karena barang dagangan rusak total.  “Semoga yang terbungkus plastik masih aman, bisa dijual lagi setelah pasar normal,” katanya, menyimpan harap di balik wajah yang letih.

Saat ditanya soal kerugian, Nursiah hanya tersenyum getir dan menggeleng. Lampu darurat yang temaram seolah menegaskan beban yang ia tanggung.

Banjir juga menerjang pertokoan di Jalan Cut Nyak Din. Air masuk tanpa ampun, merusak bangunan dan memaksa aktivitas ekonomi berhenti total.

Musa bin Idris, pedagang sembako, mengingat jelas hari itu. Kamis, 26 November 2025, sekitar pukul tiga sore, air mulai masuk ke kiosnya. “Satu jam kemudian sudah tinggi sekali. Tidak sempat menyelamatkan barang,” tuturnya.

Malam itu pun aliran listrik padam. Musa dan keluarganya memilih naik ke tempat yang lebih tinggi, meninggalkan kios dan rumah yang terendam.

Selama hampir sebulan, kawasan pasar Kuala Simpang lumpuh total. Akses internet terputus, distribusi barang terhenti, dan transaksi nyaris tak ada. Padahal, pasar ini merupakan salah satu sentra ekonomi kabupaten di selatan Aceh.

Perlahan BangkitAceh.

Perlahan, bantuan datang. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat lumpur. Relawan berdatangan, bahkan dari luar daerah. “Siang malam mereka kerja. Ada yang bawa dump truck, ada yang jaga alat berat,” kata Musa.

Pembersihan dilakukan bergiliran. Pagi, siang, hingga larut malam, pasar tak pernah benar-benar sepi dari aktivitas bersih-bersih. Namun sebagian besar kios tetap dibersihkan sendiri oleh pemiliknya. Bantuan datang, tapi tak selalu cukup.

Dua hari terakhir, Musa mulai membuka kiosnya kembali. “Belum normal, tapi sudah bisa sedikit jualan,” ujarnya.

Di sudut lain pasar, Mirza, pedagang buah, baru lima hari membuka lapak. “Yang buka baru sekitar setengahnya,” katanya.

Banyak kios masih tertutup. Lumpur belum sepenuhnya terangkat, dan sebagian pedagang masih kehabisan modal. Meski begitu, kebutuhan pokok mulai tersedia. Sembako perlahan kembali memenuhi rak-rak sederhana.

Pembeli pun mulai berdatangan, meski belum seramai dulu. Aktivitas pasar berdenyut pelan, mencoba bangkit.

Dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah diakui para pedagang telah hadir. Ada yang menerima bantuan tunai, ada pula yang mendapat dukungan logistik. Namun harapan terbesar warga tetap pada rehabilitasi menyeluruh.

Para pedagang berharap perbaikan infrastruktur pasar segera dilakukan agar aktivitas ekonomi bisa pulih sepenuhnya.

Bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat berdagang, melainkan sumber hidup bagi keluarga. “Kalau pasar hidup, kami bisa makan,” ujar seorang pedagang sambil terus menyiram lantai kiosnya yang masih terdapat sisa-sisa lumpur.

Banjir mengajarkan mereka tentang rapuhnya usaha kecil di hadapan bencana. Namun di balik kerugian besar, solidaritas tumbuh kuat, antara pedagang, relawan, dan aparat pemerintah.

Di tengah keterbatasan, para pedagang memilih bertahan. Karena bagi mereka, kembali membuka kios adalah tanda bahwa hidup harus terus berjalan. Dan dari balik lumpur, denyut ekonomi Aceh Tamiang perlahan kembali bernapas.

sumber

Pos terkait