Kejar Target Indonesia Emas, Kemdiktisaintek Akselerasi Ekosistem Riset dan Kampus

Kegiatan dialog bersama media bertajuk 'Ngopi Bareng Media dan Iftar' di Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Foto: Pasha Yudha Ernowo/InfoPublik/IGID)

Jakarta, HarianCakrawala – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan dialog bersama media bertajuk “Ngopi Bareng Media dan Iftar” di Jakarta, Jumat (13/3/2026), yang menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan insan pers untuk memperluas diseminasi kebijakan pendidikan tinggi.

Menteri Brian Yuliarto menegaskan bahwa penguatan ekosistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi merupakan kunci meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. Karena, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga motor penggerak lahirnya inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan.  “Periode ini merupakan fase krusial dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama peningkatan daya saing bangsa,” ujar Brian merujuk pada dokumen Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029.

Kemdiktisaintek mencatat adanya peningkatan akses pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi meningkat dari 30,28 persen pada 2019 menjadi 32 persen pada 2024, dan ditargetkan mencapai 38,04 persen pada 2029.

Perluasan akses tersebut juga didukung melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Jumlah penerimanya meningkat dari sekitar 780 ribu mahasiswa pada 2022 menjadi lebih dari 1 juta penerima pada 2024, dan ditargetkan mencapai 1,04 juta mahasiswa pada 2025.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco menyatakan bahwa dukungan media memiliki peran penting dalam menyampaikan berbagai transformasi kebijakan pendidikan tinggi kepada masyarakat.  “Kolaborasi dengan media menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang saling menguatkan sesuai amanat Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Kemdiktisaintek juga menegaskan tidak ada dikotomi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam pengembangan ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Data kementerian menunjukkan bahwa sekitar 72,2 persen penerima tunjangan sertifikasi dosen pada 2025 berasal dari PTS. Selain itu, 62,2 persen judul penelitian yang didanai pemerintah juga berasal dari perguruan tinggi swasta dengan total nilai sekitar Rp686,9 miliar.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menegaskan bahwa PTN dan PTS merupakan bagian dari satu sistem pendidikan tinggi nasional yang saling melengkapi. Kementerian juga memperkuat peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) agar pembinaan perguruan tinggi dapat menjangkau kampus-kampus di berbagai daerah.

Selain memperluas akses, pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi. Saat ini sekitar 24,89 persen dosen di Indonesia telah berkualifikasi doktor, atau sekitar 75.431 orang, dan ditargetkan meningkat menjadi 32 persen atau sekitar 96.981 doktor pada 2029.

Di tingkat global, pemerintah juga memperkuat strategi internasionalisasi pendidikan tinggi melalui peningkatan fasilitas pendidikan, mobilitas akademik, serta kerja sama internasional.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani menyampaikan bahwa kementerian juga mengembangkan berbagai program strategis untuk mencetak talenta unggul, termasuk melalui ekosistem Sekolah Garuda yang mencakup SMA Unggul Garuda dan Beasiswa Garuda.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman mengungkapkan bahwa minat riset di perguruan tinggi meningkat signifikan, dengan sekitar 118 ribu proposal penelitian diajukan pada tahun ini—hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain riset, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat juga terus diperluas. Sebanyak 10.090 mahasiswa telah diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak bencana untuk membantu penanganan di bidang air dan sanitasi, pangan dan gizi, kesehatan, infrastruktur, dukungan psikososial, serta sistem informasi kebencanaan.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kemdiktisaintek berharap pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya memperluas akses dan meningkatkan kualitas, tetapi juga mampu melahirkan talenta unggul serta inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan daya saing bangsa di tingkat global.

SUMBER

Pos terkait