Pelukan yang Menguatkan, Kisah Nenek Siti Bertahan di Banjir Aceh

Foto: InfoPublik/Agus Siswanto/Agoy Oleh Ismadi Amrin, Rabu, 31 Desember 2025 | 07:37 WIB - Redaktur: Untung S

HarianCakrawala – Di antara deretan tenda pengungsian Kampung Bundar, Aceh Tamiang, suara tawa seorang nenek terdengar ringan, memecah kesunyian siang yang lembap. Dialah Siti Safura, warga terdampak banjir yang kini menjalani hari-harinya di posko pengungsian.

Usianya telah menginjak 80 tahun, namun semangat hidupnya masih menyala, seolah menolak tunduk pada usia maupun bencana yang datang tiba-tiba.

Wajahnya tampak tenang, sesekali dihiasi senyum hangat. Rambutnya yang memutih terurai, tangannya cekatan merapikan daster yang dikenakannya. Meski rumahnya terendam banjir, Nenek Siti tetap berusaha menjalani hari dengan hati lapang.

Hari itu, Minggu (28/12/2025) Posko Pengungsian Kampung Bundar, di sekitaran kantor bupati, di Aceh Tamiang, menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya. Sejumlah pejabat datang meninjau langsung kondisi warga. Di antara rombongan tersebut, hadir Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. Bagi Nenek Siti, kedatangan itu bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan pengalaman yang membekas di hatinya.

“Tadi ketemu Ibu Menteri, sudah, sudah. Senang. Kami salaman,” ucapnya sambil mengangguk-angguk kecil, mengingat kembali pertemuan tersebut. Raut wajahnya berubah cerah saat bercerita. Ia mengaku sempat penasaran dengan sosok menteri yang disebut-sebut berasal dari Jakarta.

“Saya tanya ke rombongan, mana ibu dari Jakarta tadi,” tuturnya. Tak lama kemudian, Menteri Meutya Hafid menghampirinya. “Terus Ibu Menteri bilang, ‘Inilah Bu,’” lanjut Nenek Siti, menirukan percakapan singkat itu.

Yang terjadi setelahnya sungguh di luar dugaan. Di tengah kesibukan kunjungan, sang Menteri justru memeluknya erat. “Langsung saya dipeluk sama Bu Menteri, peluk-peluk, cium-cium pipi,” kata Nenek Siti lirih, matanya berbinar. Pelukan itu terasa seperti penguat, seolah memberi pesan bahwa ia tidak sendiri menghadapi masa sulit ini.

Di usia senjanya, Nenek Siti masih terlihat sehat dan energik. Tutur katanya jelas, tubuhnya tegap, dan semangatnya terpancar dalam setiap cerita. Ia mengaku bersyukur masih diberi kesehatan untuk bertahan di tengah situasi darurat.

Saat ditanya mengenai bantuan pemerintah, Nenek Siti menjawab tanpa ragu. “Pemerintah baik. Saya sudah banyak dapat,” ujarnya mantap. Bantuan tersebut menjadi penopang penting bagi kehidupan para pengungsi.

Ia menyebutkan berbagai bantuan yang telah diterimanya. “Sudah dapat beras, telur, mi instan. Kalau makanan sudah cukup,” katanya. Tak hanya itu, kebutuhan kesehatan pun diperhatikan. “Obat juga dapat,” tambahnya singkat namun penuh rasa syukur.

Bagi Nenek Siti, bantuan tersebut bukan sekadar barang, melainkan bukti perhatian yang menguatkan batin. Di tengah keterbatasan, ia merasa tidak ditinggalkan. Hari-harinya di pengungsian dijalani dengan sederhana—berbagi cerita dengan sesama pengungsi, beristirahat, dan sesekali bercanda dengan relawan.

Perbaikan juga terasa pada fasilitas komunikasi. Jaringan telekomunikasi yang sempat terganggu akibat banjir kini mulai pulih. “Telepon HP bagus, sekarang di sini sudah bisa telepon,” ujarnya sambil tersenyum lega.

Hal sederhana itu membawa kebahagiaan besar. Kini, Nenek Siti dapat kembali berbincang dengan keluarga yang berada di luar kota. “Ngobrol-ngobrol sama keluarga sudah bisa?” tanyanya sambil tertawa kecil. “Bisa, lah. Bisa, lah,” jawabnya yakin.

Di balik tubuh renta dan langkah yang tak lagi sekuat dulu, Nenek Siti menyimpan ketangguhan yang luar biasa. Banjir memang mengubah rutinitas hidupnya, namun tidak menghilangkan rasa syukur dan harapan. Pelukan hangat di pengungsian, bantuan yang terus mengalir, serta kabar dari keluarga menjadi kekuatan yang membuatnya bertahan.

Kisah Nenek Siti adalah potret kecil dari ribuan warga Aceh Tamiang yang terdampak banjir. Di tengah bencana, kemanusiaan menemukan jalannya—melalui perhatian, kepedulian, dan sentuhan sederhana yang mampu menguatkan hati, terutama bagi mereka yang telah menua bersama waktu.

sumber

Pos terkait