Poltekbang Surabaya Perkuat SDM Penerbangan di Era 4.0

Poltekbang Surabaya memperkuat kesiapan SDM penerbangan menghadapi era Aviation 4.0 melalui SNITP ke-10 dan ICATEAS 2026. Forum ini diikuti 119 peserta dan pemakalah dengan 117 paper ilmiah yang membahas kebutuhan kompetensi penerbangan masa depan. (Foto: Humas Kemenhub)

Harian Cakrawala – Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya memperkuat SDM penerbangan untuk menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Upaya tersebut dilakukan melalui Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan (SNITP) ke-10 dan The 5th International Conference on Advanced Transportation, Engineering and Applied Social Science (ICATEAS) 2026.

BPSDMP melalui Poltekbang Surabaya menggelar kedua forum tersebut. Kegiatan itu mempertemukan akademisi, praktisi, regulator, dan industri penerbangan.

Forum tersebut membahas penguatan kompetensi tenaga profesional penerbangan di tengah transformasi menuju era Aviation 4.0.

SNITP dan ICATEAS Bahas Kesiapan SDM Penerbangan

SNITP 2026 mengangkat tema “Membangun Kesiapan Kerja SDM Penerbangan melalui Kemitraan Pendidikan Vokasi di Industri Berbasis Teknologi untuk Ekosistem Kompetensi Berkelanjutan”.

Sementara itu, ICATEAS 2026 mengusung tema “Enhancing Aviation Workforce Readiness: Building Resilient and Competent Aviation Professionals for Future Challenges”.

Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU) M. Abrar Tuntalanai membuka kegiatan tersebut melalui Zoom Meeting.

Dalam siaran pers yang diterima InfoPublik pada Kamis (10/9/2026), Abrar menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan vokasi penerbangan. Menurutnya, peningkatan tersebut perlu mencakup taruna, instruktur, hingga tenaga pendidik.

Abrar menilai kualitas SDM menjadi faktor penting dalam menghasilkan tenaga profesional penerbangan. SDM tersebut harus memiliki integritas, kompetensi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Lembaga pendidikan vokasi juga perlu memperluas kerja sama dengan industri dan pemangku kepentingan. Selain itu, peningkatan kualitas dan publikasi jurnal ilmiah dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan.

Teknologi Mendorong Perubahan Industri Penerbangan

Pembahasan SNITP dan ICATEAS 2026 menyoroti perubahan industri penerbangan global. Perkembangan teknologi semakin memengaruhi perubahan tersebut.

Era Aviation 4.0 memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), analisis data prediktif, otomatisasi, dan Virtual Reality (VR). Teknologi tersebut mendukung berbagai aspek penyelenggaraan penerbangan.

Kebutuhan tenaga profesional penerbangan juga terus meningkat. Bahkan, proyeksi industri menunjukkan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan lebih dari 1,06 juta profesional penerbangan baru dalam dua dekade mendatang.

Kondisi tersebut mendorong pendidikan vokasi untuk menyiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan industri. Lulusan tidak cukup hanya memenuhi persyaratan sertifikasi formal.

Lulusan juga perlu menguasai kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Namun, penerapan teknologi tetap harus berjalan bersama standar keselamatan penerbangan atau safety.

Industri Dorong Kompetensi Adaptif

Sejumlah pakar dan pimpinan industri penerbangan hadir sebagai narasumber. Mereka antara lain Prof. Achim I. Czerny dari The Hong Kong Polytechnic University, Capt. Kamarul Arifin Bin Othman dari Malaysia Airlines Berhad (MAB) Academy, Country Head of People Indonesia AirAsia Novretta Nursetyawati, serta Maintenance & Engineering Director Batik Air Indonesia Setyo Jarnoko.

Novretta menekankan pentingnya membangun pola pikir adaptif melalui semangat “Dare to Dream”. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tetap harus mempertahankan nilai kemanusiaan dan kepemimpinan.

AI dapat meningkatkan efisiensi. Namun, keputusan terkait keselamatan tetap membutuhkan human judgment.

AirAsia Indonesia juga mendorong perubahan pola pembelajaran magang industri. Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengalaman kerja.

Model magang dapat dikembangkan menjadi problem-based learning. Dengan model tersebut, peserta didik dapat terlibat dalam penyelesaian persoalan nyata di industri.

Sementara itu, Setyo Jarnoko menekankan pentingnya menyiapkan T-Shaped Professional. Konsep tersebut mengacu pada tenaga profesional yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan profesional yang luas.

Menurut Setyo, hubungan pendidikan vokasi dan industri juga perlu melampaui pola On the Job Training (OJT).

Kemitraan ideal perlu berkembang menjadi ekosistem kolaboratif. Pendekatan tersebut mencakup Co-Design, Co-Develop, Co-Train, Co-Assess, dan Co-Improve.

Melalui pendekatan itu, industri dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama dalam merancang kompetensi. Keduanya juga dapat mengembangkan pembelajaran, melatih peserta didik, melakukan penilaian, serta meningkatkan kualitas lulusan.

“Kerja sama pendidikan vokasi dan industri harus menjadi ekosistem kolaboratif,” menjadi salah satu penekanan dalam forum tersebut.

117 Paper Dipresentasikan

Sebanyak 119 peserta dan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga mengikuti SNITP dan ICATEAS 2026.

Sejumlah institusi yang terlibat antara lain Telkom University, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan AirNav Indonesia.

Peserta mempresentasikan 117 paper ilmiah dalam kedua forum tersebut. Sebanyak 93 pemakalah mempresentasikan paper dalam ICATEAS, sedangkan 24 pemakalah lainnya mempresentasikan paper dalam SNITP.

Direktur Poltekbang Surabaya Ahmad Bahrawi berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan. Ia ingin kegiatan tersebut menghasilkan kolaborasi yang berdampak pada pengembangan tenaga profesional penerbangan.

“Kami berharap diskusi dan kolaborasi yang terjalin dari forum SNITP dan ICATEAS 2026 ini memberikan kontribusi nyata dalam mencetak tenaga profesional yang unggul, adaptif, dan berkarakter, sekaligus memperkuat ekosistem kompetensi penerbangan yang berkelanjutan di Indonesia,” pungkas Ahmad.

Melalui penguatan pendidikan vokasi, kolaborasi dengan industri, dan pemanfaatan teknologi, BPSDMP Perhubungan terus mendorong peningkatan kualitas SDM penerbangan. Upaya tersebut bertujuan menjawab perubahan industri sekaligus menjaga keselamatan sebagai prioritas utama.

Sumber

Pos terkait