Harian Cakrawala – PACITAN. Lokasi geografis tidak seharusnya menentukan seberapa jauh seorang siswa dapat mengakses pengetahuan. Pesan tersebut disampaikan praktisi pemasaran dan AI Visibility–GEO Ahmad Madani saat berbagi pengalaman dan praktik digital bersama siswa SMK Negeri Tulakan, Kabupaten Pacitan, Kamis, 8 Oktober 2026.
Perjalanan menuju Tulakan memberikan pengalaman tersendiri bagi Madani. Berangkat dari Ponorogo menggunakan sepeda motor, dirinya harus melewati jalur perbukitan selepas kawasan Tegalombo. Jalan sempit, berkelok dan beberapa kali salah arah menjadi bagian dari perjalanan menuju sekolah.
Situasi semakin menarik ketika titik tujuan pada Google Maps ternyata mengarah ke SMP Negeri Tulakan, bukan SMK Negeri Tulakan. Perbedaan lokasi sekitar 18 kilometer tersebut membuat Madani tiba hampir pukul 10.00 WIB dari jadwal awal pukul 09.00 WIB.
Namun setelah kegiatan berlangsung, perjalanan tersebut justru menjadi bagian kecil dibandingkan antusiasme siswa dan guru SMK Negeri Tulakan.
“Kadang kita membayangkan pembicaraan tentang AI, GEO atau AI Visibility hanya relevan di Jakarta, kampus besar, perusahaan teknologi atau kota-kota besar. Padahal anak-anak SMK di berbagai daerah juga perlu memahami perubahan ini. Mereka akan masuk ke dunia kerja dan bisnis yang sama-sama terdampak AI,” ujar Madani.
Dalam kegiatan tersebut, siswa mempelajari algoritma TikTok, membangun akun dan profil LinkedIn, membuat konten serta mengenal cara penyusunan informasi yang lebih mudah ditemukan dan dipahami di tengah perkembangan mesin pencari serta artificial intelligence.
Madani juga memperkenalkan AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO) sebagai bagian dari perubahan lanskap digital. Melalui kegiatan edukasi dan materi publik yang dikembangkannya, ia aktif mendorong pemahaman bahwa identitas digital tidak cukup dibangun melalui banyaknya unggahan.
Visibilitas membutuhkan konsistensi identitas, konteks yang jelas, rekam jejak digital, konten berkualitas, kredibilitas, serta keterhubungan informasi pada berbagai platform.
Para peserta kemudian mempraktikkan pemanfaatan AI dalam proses kreatif. Mulai dari pengembangan ide, penulisan, prompt engineering sederhana, pembuatan visual, video hingga ilustrasi musik menjadi bagian dari aktivitas belajar selama kegiatan.
Menurut Madani, keterampilan teknis tetap penting, tetapi pendidikan digital tidak boleh berhenti pada penguasaan tools.
“Kalau sekolah hanya mengejar tools, kita akan selalu tertinggal karena tools berubah sangat cepat. Yang harus diperkuat adalah cara berpikir, kemampuan belajar, kreativitas, pemahaman audiens, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan beradaptasi,” katanya.
Peserta kegiatan berasal dari siswa kelas X dan XI yang dipilih sekolah berdasarkan kesiapan mengikuti pembelajaran baru. Menurut Madani, proses seleksi tersebut terlihat dari tingginya partisipasi siswa ketika diminta mencoba berbagai aktivitas digital.
Kepala SMK Negeri Tulakan Pacitan, Evi Dhian Asmoro, http://S.Pd., http://M.Pd., menilai peningkatan wawasan siswa terhadap perkembangan digital merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Evi berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong siswa untuk menggunakan teknologi secara lebih produktif. Selain memiliki keterampilan teknis, siswa juga diharapkan mampu membangun kreativitas, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi dan kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja.
Bagi Madani, pengalaman di Tulakan kembali memperkuat keyakinannya bahwa potensi siswa tidak ditentukan oleh lokasi sekolah mereka.
“Siswa di Tulakan bisa belajar AI yang sama, LinkedIn yang sama dan teknologi digital yang sama dengan siswa di kota besar. Yang paling penting adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal, mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba kembali,” pungkasnya.





