Harian Cakrawala – Kabupaten Sleman mulai mengembangkan pisang Cavendish sebagai komoditas unggulan pendamping salak pondoh. Melalui budidaya terencana, petani lokal kini mampu memasok pisang berkualitas ke berbagai jaringan pasar modern.
Selama puluhan tahun, kawasan di lereng Gunung Merapi ini terkenal sebagai sentra produksi salak pondoh. Namun, perubahan permintaan pasar mendorong petani dan pelaku usaha untuk mengembangkan komoditas lain yang memiliki nilai jual tinggi.
Pisang Cavendish menjadi salah satu pilihan. Buah tropis ini memiliki peluang pasar yang besar. Sayangnya, petani sering menghadapi kendala dalam menjaga kualitas, menyeragamkan waktu panen, dan memenuhi standar fisik buah.
Rocky, seorang pedagang buah di Pasar Pusat Gamping, melihat peluang tersebut. Ia menyewa lahan seluas 1,5 hektare di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, untuk membangun perkebunan pisang Cavendish.
Melalui perkebunan ini, Rocky ingin menghasilkan buah berkualitas yang memenuhi standar jaringan ritel modern.
Budidaya Pisang Cavendish di Sleman
Memasuki tahun ketiga operasionalnya, perkebunan tersebut memiliki sekitar 3.000 pohon pisang produktif. Tujuh tenaga kerja merawat tanaman setiap hari. Mereka mengelola unsur hara tanah, membersihkan gulma, dan menyemprotkan pelindung tanaman dari hama.
Andi, seorang pemuda lokal yang turut mengelola kebun, menjelaskan bahwa pisang Cavendish memiliki siklus panen yang relatif cepat.
Pohon induk mulai menghasilkan buah pada bulan kedelapan. Setelah itu, tunas anakan dapat menghasilkan panen secara bergiliran setiap tiga bulan.
Pola panen tersebut membantu pengelola menjaga ketersediaan stok sepanjang waktu. Selain itu, pengawasan sejak awal pertumbuhan membantu mereka mempertahankan kualitas buah.
Dalam satu siklus panen raya, perkebunan di Sidomulyo mampu menghasilkan hingga 120 tandan pisang berkualitas super dalam hitungan pekan.
Proses Pascapanen Menjaga Kualitas Buah
Pengelola tidak hanya mengandalkan perawatan tanaman untuk menghasilkan pisang berkualitas. Mereka juga menerapkan penanganan pascapanen secara cermat.
Petugas memotong tandan ketika buah mencapai usia panen optimal dan kulitnya masih berwarna hijau pekat. Selanjutnya, mereka mencuci sisir pisang menggunakan air mengalir.
Setelah pencucian, petugas mengangin-anginkan pisang di dalam ruangan. Cara ini membantu menjaga kondisi kulit buah sekaligus menghindari paparan sinar matahari langsung yang dapat memicu munculnya bercak.
Tahap berikutnya berlangsung di ruang inkubasi khusus. Pengelola mengatur suhu ruangan dan komposisi gas untuk membantu buah matang secara serentak.
Proses tersebut menghasilkan pisang dengan warna kuning cerah yang sesuai dengan standar pasar swalayan premium. Setelah mencapai tingkat kematangan yang diinginkan, pengelola mengemas buah sesuai standar industri.
Mereka kemudian memasarkan produk tersebut menggunakan merek lokal Pick Me.
Pasokan Supermarket Perkuat Ekonomi Lokal
Penggabungan teknik budidaya dengan teknologi pematangan buah memberikan hasil positif bagi usaha Rocky. Setiap pekan, perkebunan ini mampu memasok sedikitnya 60 tandan pisang Cavendish ke berbagai jaringan supermarket.
Pasokan rutin tersebut membuka peluang ekonomi bagi tenaga kerja setempat. Selain itu, usaha ini menunjukkan bahwa petani lokal dapat memenuhi kebutuhan pasar modern melalui pengelolaan kebun dan mutu produk yang konsisten.
Pengembangan pisang Cavendish juga memperluas pilihan komoditas pertanian di Kabupaten Sleman. Petani tidak hanya mengandalkan salak pondoh, tetapi juga memiliki peluang dari komoditas buah lain yang bernilai jual tinggi.
Ke depan, inovasi agrobisnis di Godean dapat mendukung ketahanan ekonomi daerah. Pisang Cavendish berpeluang menjadi komoditas pendamping salak pondoh sekaligus membuka kesempatan bagi petani untuk meningkatkan pendapatan.(MC Kab. Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Dwi Ony Raharjo)




