
Pemkab Maluku Tenggara Dorong Hilirisasi Kelapa Kei Jadi Produk Bernilai Tambah
Langgur, Harian Cakrawala — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mendorong hilirisasi kelapa Kei agar komoditas lokal tersebut tidak hanya berakhir sebagai kopra. Pemerintah ingin masyarakat mengembangkan kelapa menjadi berbagai produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Beberapa produk yang dapat dikembangkan antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), minyak goreng kelapa premium, tepung kelapa, dan blondo.
Upaya tersebut mulai diperkuat melalui kegiatan Pendampingan Teknis Produksi Industri Kecil dan Menengah (IKM) Olahan Kelapa. Kegiatan berlangsung pada 22–25 September 2026 dan melibatkan 20 pelaku IKM.
Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam membuka kegiatan tersebut di Hotel Aurelia Kimson, Langgur, Selasa (22/9/2026).
Hilirisasi Kelapa Kei Tingkatkan Nilai Komoditas
Viali mengatakan kelapa memiliki peran penting bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat Kei. Namun, masyarakat masih banyak menjual hasil kelapa dalam bentuk kopra.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat potensi nilai tambah dari komoditas kelapa belum berkembang secara maksimal.
“Pohon kelapa sering kita sebut sebagai pohon kehidupan. Tapi kita hanya jual kopra, nilai tambahnya lari ke luar. Hari ini kita ubah mindset itu,” tegas Viali.
Karena itu, pemerintah daerah ingin mendorong masyarakat mengolah kelapa sejak dari daerah asalnya.
Viali mengatakan proses tersebut dapat memperpanjang rantai ekonomi. Rantai itu mencakup produksi, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran.
“Saatnya kelapa Kei jadi VCO, minyak goreng kelapa premium, tepung kelapa dan blondo. Harganya harus kita tentukan dari Langgur, bukan dari luar,” ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari komoditas kelapa.
Pelaku IKM Didorong Serius Mengikuti Pendampingan
Viali juga meminta peserta memanfaatkan kegiatan pendampingan secara maksimal. Ia menekankan bahwa peserta perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan produksi, bukan sekadar mengejar sertifikat.
“Saya minta jangan datang hanya untuk menonton dan ambil sertifikat. Ini ilmu gratis yang nilainya mahal. Serius, tanya sampai paham, praktik sampai bisa,” katanya.
Pendampingan ini merupakan kerja sama Pemkab Maluku Tenggara melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Tenaga Kerja dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian.
Kolaborasi tersebut memberikan ruang bagi pelaku IKM untuk memahami proses usaha dari sisi produksi hingga administrasi.
Peserta Belajar Produksi dan Pengelolaan Usaha
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai pembukuan sederhana. Mereka juga mendapat informasi mengenai akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
Selain itu, peserta mempelajari proses pengurusan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Sementara itu, kegiatan praktik produksi berlangsung pada hari kedua hingga hari keempat. Peserta mengikuti praktik di Gedung Dekranasda Maluku Tenggara dengan pendampingan instruktur nasional.
Dengan kombinasi materi dan praktik, pelaku IKM diharapkan memiliki bekal yang lebih lengkap untuk mengembangkan usaha olahan kelapa.
Pemkab Maluku Tenggara Dorong Produk Siap Dipasarkan
Viali berharap pendampingan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Pemerintah daerah juga ingin memastikan pelaku usaha mampu menjaga mutu produk dan memperluas pemasaran.
Menurutnya, pelaku IKM perlu memperhatikan sejumlah aspek sebelum membawa produk ke pasar.
“Kawal sampai tuntas. Dari mutu, halal, PIRT, kemasan hingga pemasaran. Saya mau lahir produk unggulan baru khas Malra yang tembus pasar,” pungkasnya.
Peserta juga memperoleh sejumlah fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut meliputi alat tulis, transportasi, sertifikat, serta fasilitasi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) tanpa biaya.
Kelapa Kei Jadi Peluang Usaha Baru
Pemkab Maluku Tenggara berharap penguatan industri olahan kelapa dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal. Pemerintah juga melihat langkah tersebut sebagai peluang untuk melahirkan usaha baru bagi masyarakat.
Dengan hilirisasi kelapa Kei, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah. Pengolahan di tingkat daerah dapat membuka tahapan usaha baru, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Pemerintah daerah pun mendorong pelaku IKM memanfaatkan pendampingan dan fasilitas yang tersedia untuk mengembangkan produk olahan kelapa secara berkelanjutan.





