Harian Cakrawala – Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional kembali menurun. Berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan hingga Rabu (16/9/2026) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 479 hotspot high confidence, atau turun 558 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski terjadi penurunan, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan tetap memperkuat pengendalian karhutla di sejumlah wilayah karena risiko kebakaran dan dampak asap masih terjadi, termasuk terhadap habitat dan satwa liar.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, penurunan hotspot high confidence terjadi di seluruh enam provinsi prioritas.
Sumatera Selatan mencatat 123 titik, turun dari 245 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah turun dari 266 menjadi 102 titik, Kalimantan Barat dari 43 menjadi 21 titik, Jambi dari 62 menjadi 12 titik, Kalimantan Selatan dari 72 menjadi 11 titik, serta Riau dari 15 menjadi 11 titik.
Penurunan cukup besar terlihat di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Sumatra Selatan. Namun, Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Karena itu, patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, dan pendinginan tetap diperkuat di wilayah rawan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan kondisi aktual di lapangan.
Pengendalian dilakukan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak lainnya.
Untuk mendukung operasi di enam provinsi prioritas, pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara, terdiri atas 34 armada water bombing dan 19 armada untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dukungan udara juga diperkuat tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang. Namun, BNPB menyampaikan pengoperasian Chinook untuk pemadaman pada 16 September masih mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan karena rendahnya jarak pandang akibat kabut asap di Kalimantan Barat.
Dengan kondisi tersebut, operasi udara tidak dipaksakan apabila visibilitas belum memenuhi aspek keselamatan penerbangan.
Operasi Penyelamatan Satwa
Selain berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan, karhutla juga mengancam habitat satwa liar. Kebakaran dapat mendorong satwa keluar dari habitatnya untuk mencari lokasi yang lebih aman.
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama mitra konservasi terus meningkatkan patroli, pemantauan, dan penyelamatan satwa di wilayah terdampak.
BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat 21 orangutan telah dievakuasi. Selain itu, terdapat 12 individu satwa liar lainnya yang dievakuasi, terdiri atas trenggiling, bekantan, lutung kelabu, kukang Kalimantan, dan musang tenggalung.
Tim juga melakukan pemantauan satwa di kawasan terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat tidak menangkap atau mengevakuasi satwa liar secara mandiri. Jika menemukan satwa terdampak karhutla, masyarakat diminta segera menghubungi petugas, menyampaikan lokasi secara jelas, menjelaskan kondisi satwa, serta mendokumentasikan apabila aman dilakukan.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara masih bervariasi. Sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, dengan area terbatas berada pada kategori berbahaya.
Pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 16 September juga menunjukkan jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas mulai bervariasi. Pontianak tercatat sekitar lima kilometer dengan kondisi berasap, sementara Palangka Raya dan Banjarmasin mencapai 10 kilometer atau lebih. Jarak pandang di Jambi sekitar sembilan kilometer, Pekanbaru delapan kilometer, dan Palembang 10 kilometer atau lebih.
Untuk Kamis pagi (17/9/2026), BMKG memprakirakan kawasan Pelabuhan Dwikora Pontianak mengalami udara kabur dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan kewaspadaan terhadap dampak asap masih perlu dipertahankan.
Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta terus memantau kondisi kualitas udara. Jika kondisi memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap temuan asap, api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar terdampak dapat segera dilaporkan kepada petugas agar penanganan dilakukan sedini mungkin.
Laporan karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.





