Harian Cakrawala – AKARTA – Menjaga harapan, menenun perubahan, dan memahami tanpa menghakimi menjadi benang merah percakapan dalam Bermuara 2026, yang menandai lima tahun perjalanan Ruang Damai.
Tagline “Menjaga Harapan, Menenun Perubahan, 5 Tahun Memahami Tanpa Menghakimi” tidak berhenti sebagai tema perayaan. Gagasan tersebut diterjemahkan melalui dua sesi dialog yang mengajak peserta melihat kembali cara memahami diri sendiri, menerima keberagaman, hingga menemukan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dialog “Jadi Diri Sendiri Arungi Ragam Hidup”, Bhikkhu Sangha Antadhiro Thera mengajak peserta melihat kehidupan melalui keseimbangan diri. Menurutnya, hidup perlu dijalani dengan ketenangan hati, pikiran positif, dan kemampuan mengontrol diri.
Baginya, kehidupan tidak selalu berada dalam satu keadaan. Kesedihan dan kebahagiaan merupakan bagian yang hadir bergantian. Karena itu, kemampuan menjaga keseimbangan menjadi penting agar seseorang tidak terjebak secara berlebihan dalam satu kondisi.
Ia juga menyampaikan bahwa perjalanan hidup membutuhkan guru atau sosok yang dapat membantu seseorang mengenali kapan harus berhenti dan kapan harus melangkah kembali.
Gagasan tentang memahami kemudian diperluas oleh Lukman Hakim Saifuddin melalui cara melihat hubungan manusia dengan sesamanya.
Menurut Lukman, manusia merupakan makhluk sosial yang saling terhubung. Orang lain, dalam pandangannya, dapat dilihat sebagai bagian dari diri sendiri. Prinsip tersebut membawa konsekuensi sederhana: jika seseorang tidak ingin diperlakukan dengan cara tertentu, ia pun tidak seharusnya memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.
Cara pandang itu juga berlaku terhadap keberagaman. Perbedaan tidak diciptakan untuk direndahkan, melainkan untuk saling melengkapi. Keberagaman justru menjadi bagian yang membuat kehidupan dapat berjalan.
Dalam dialog “Semua Bisa Berdampak Bersama”, Rio Zakarias menekankan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak waktu atau meninggalkan pekerjaan utamanya.
Memberikan dampak, menurutnya, tidak selalu membutuhkan kesibukan luar biasa atau tindakan dalam skala besar. Aksi kepedulian yang sederhana pun dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Handika Surbakti, yang melihat manusia sebagai pihak yang memiliki peran untuk memberdayakan dan memberikan dampak bagi sesamanya.
Sementara Fathimah Azzahra membawa gagasan tersebut pada sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian: kepedulian.
Menurutnya, menjadi seseorang yang berdampak dapat dimulai ketika hati dan diri seseorang merasa terpanggil untuk bergerak terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Dari rangkaian gagasan tersebut, tagline Bermuara menemukan maknanya dalam pengalaman manusia sehari-hari. Menjaga harapan dapat dimulai dari kemampuan memahami dan mengendalikan diri. Menenun perubahan dapat dimulai dari kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan. Sementara memahami tanpa menghakimi berarti melihat keberagaman sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk merendahkan.

Bermuara 2026 digelar di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, pada 22 Agustus 2026. Selain dialog, rangkaian lima tahun perjalanan Ruang Damai tersebut juga diisi dengan Gallery Walk – Time Capsule 5th Ruang Damai, peluncuran Annual Report, sesi permainan, serta River of Life – Creative Reflection.
Lima tahun Bermuara pada akhirnya bukan hanya tentang melihat perjalanan yang telah dilalui. Momentum ini menjadi ajakan untuk terus merawat ruang perjumpaan di tengah perbedaan latar belakang, pengalaman, dan cara pandang.





