Harian Cakrawala – Gresik, 15 Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar pelatihan pengolahan sampah organik menggunakan komposter berbahan drum bekas di Balai Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Selasa (15/7/2025). Kegiatan ini diikuti oleh puluhan anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Lasem sebagai bentuk edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi pupuk organik yang bernilai guna.
Mengusung tema **”Drum Bekas, Solusi Cerdas: Mahasiswa KKN Untag Surabaya Ajak Ibu-Ibu PKK Desa Lasem Sulap Sampah Organik Jadi Pupuk Bernilai”**, program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
Koordinator kelompok KKN Untag Surabaya menjelaskan bahwa sebagian besar sampah rumah tangga di Desa Lasem masih didominasi oleh sampah organik, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan dedaunan. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap, menjadi sumber penyakit, hingga mencemari lingkungan. Oleh karena itu, mahasiswa menghadirkan solusi sederhana melalui pemanfaatan drum bekas sebagai komposter rumah tangga.

“Kami ingin memberikan edukasi bahwa sampah organik bukan sekadar limbah yang harus dibuang. Dengan teknologi sederhana menggunakan drum bekas, masyarakat dapat mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk tanaman bahkan memiliki nilai ekonomi,” ujar salah satu mahasiswa KKN saat memberikan materi kepada peserta.
Pelatihan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Setelah itu, peserta diperkenalkan dengan desain komposter berbahan drum bekas yang telah dimodifikasi menggunakan lubang sirkulasi udara dan kran di bagian bawah sebagai saluran keluarnya pupuk organik cair.
Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti sesi praktik secara langsung. Mahasiswa KKN mendampingi ibu-ibu PKK mulai dari proses menyiapkan drum, memasukkan sampah organik, menambahkan bahan pendukung seperti dedaunan kering dan aktivator kompos, hingga menjelaskan proses fermentasi yang menghasilkan pupuk organik berkualitas.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai jenis sampah yang dapat dijadikan kompos, lama proses penguraian, hingga cara mengatasi bau selama proses fermentasi. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap inovasi pengelolaan sampah yang mudah diterapkan di lingkungan rumah.
Salah seorang anggota PKK Desa Lasem mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut karena memperoleh pengetahuan baru yang dapat langsung dipraktikkan.
“Selama ini sampah dapur biasanya langsung dibuang. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi tahu bahwa sampah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman di pekarangan rumah. Cara pembuatannya juga ternyata cukup mudah,” ungkapnya.
Pemerintah Desa Lasem menyambut baik kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN Untag Surabaya. Program tersebut dinilai sejalan dengan upaya desa dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, pemanfaatan komposter drum bekas juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pupuk organik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, tanaman pekarangan, maupun budidaya tanaman hias sehingga berpotensi menekan biaya pembelian pupuk.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Untag Surabaya berharap masyarakat Desa Lasem dapat menerapkan kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri. Ke depan, program ini diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak warga sehingga mampu menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan produktif.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan penyerahan simbolis komposter berbahan drum bekas kepada perwakilan PKK Desa Lasem sebagai bentuk dukungan agar program pengolahan sampah organik dapat terus dilaksanakan setelah masa KKN berakhir. Mahasiswa dan masyarakat berharap inovasi sederhana ini dapat menjadi langkah nyata dalam mewujudkan budaya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Lasem.





