Harian Cakrawala – Paris — Sains Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan di panggung dunia. Dr. Sri Fatmawati, ilmuwan kimia bahan alam dan kimia medisinal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), resmi terpilih sebagai Fellow of the International Science Council (ISC) 2026.
Bagi Indonesia, terpilihnya Sri Fatmawati menjadi momentum penting. Namanya kini hadir sebagai ilmuwan pertama Indonesia yang masuk dalam jejaring internasional yang mempertemukan ilmuwan, insinyur, pemimpin akademik, serta tokoh yang bekerja di persimpangan sains dan kebijakan global.
International Science Council (ISC) atau Dewan Sains Internasional adalah salah satu organisasi sains global paling berpengaruh, dengan kantor pusat di Paris, Prancis, dan jejaring sekitar 250 organisasi ilmiah dari seluruh dunia. ISC membawa misi sebagai the global voice for science, suara global bagi ilmu pengetahuan serta mempertemukan sains dengan kebijakan, masyarakat, dan diplomasi internasional.
Pengumuman yang disampaikan ISC pada 16 Oktober 2026 tersebut menempatkan Sri Fatmawati dalam jajaran ilmuwan dan pemimpin pemikiran dari berbagai negara yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam memajukan sains sebagai global public good atau barang publik global.
ISC Fellowship memiliki makna khusus karena merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan ISC kepada seorang individu. Pengakuan ini ditujukan kepada ilmuwan dan pemimpin pemikiran yang tidak hanya menunjukkan pencapaian ilmiah, tetapi juga berperan dalam memperkuat hubungan antara pengetahuan, kebijakan, dan kehidupan masyarakat. Kelompok Fellow terbaru berasal dari hampir 30 negara dan bergabung dengan jejaring global lebih dari 200 ISC Fellows.
Dewan Sains Internasional: Lebih dari Seabad Menyatukan Sains Dunia
International Science Council (ISC) atau Dewan Sains Internasional adalah salah satu organisasi sains global paling berpengaruh, dengan kantor pusat di Paris, Prancis, dan jejaring sekitar 250 organisasi ilmiah dari seluruh dunia. ISC membawa misi sebagai the global voice for science, suara global bagi ilmu pengetahuan, serta mempertemukan sains dengan kebijakan, masyarakat, dan diplomasi internasional.
Meski resmi berdiri pada 2018 melalui penggabungan International Council for Science (ICSU) dan International Social Science Council (ISSC), akar sejarahnya membentang lebih dari satu abad, hingga International Research Council pada 1919. Tradisi panjang ini telah melahirkan berbagai kolaborasi penting dunia, mulai dari International Geophysical Year hingga program global di bidang iklim, kelautan, Antarktika, dan keberlanjutan.
Dalam ekosistem sebesar inilah ISC Fellowship memiliki prestise luar biasa. ISC secara resmi menyebut Fellowship sebagai penghargaan tertinggi yang dapat diberikan organisasi tersebut kepada seorang individu, diberikan kepada ilmuwan dan pemimpin pemikiran yang memberikan kontribusi luar biasa bagi sains dan masyarakat.
Berangkat dari Kekayaan Biodiversitas Indonesia
Sri Fatmawati menekuni bidang natural product and medicinal chemistry, dengan fokus penelitian pada biodiversitas, pengobatan tradisional, kimia medisinal, dan inovasi kesehatan. Di ITS, ia telah menjalankan peran akademik dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejak 2002.
Kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi salah satu fondasi utama dalam perjalanan ilmiahnya. Bagi Sri Fatmawati, sumber daya alam Nusantara tidak hanya merupakan warisan biologis, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat dikaji secara ilmiah, dikembangkan menjadi kekayaan intelektual, dan diarahkan menjadi inovasi yang relevan bagi kehidupan.
Rekam jejak tersebut tercermin dalam berbagai publikasi ilmiah dan paten terdaftar yang mencakup pengembangan produk herbal, kandidat antidiabetes, imunomodulator, serta sejumlah inovasi berbasis sumber daya hayati.
Dari Laboratorium Menuju Ekosistem Inovasi
Saat ini, Sri Fatmawati juga mengemban amanah sebagai Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2). Dalam peran tersebut, ia mendorong keterhubungan antara riset biodiversitas dan herbal dengan teknologi, kekayaan intelektual, industri, serta pengembangan inovasi yang dapat diterapkan secara lebih luas.
Baginya, penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi. Pengetahuan perlu bergerak dari laboratorium menuju bukti ilmiah, kemudian berkembang menjadi inovasi, dan pada akhirnya memberi dampak nyata.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam kepemimpinannya di berbagai organisasi ilmiah. Sri Fatmawati merupakan pendiri dan Ketua Organization for Women in Science for the Developing World (OWSD) Indonesia National Chapter, pernah memimpin Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), serta menjadi Executive Committee Global Young Academy (GYA) pada 2022–2025.
Kiprahnya menunjukkan bahwa kepemimpinan ilmiah bukan hanya tentang mencapai posisi tertinggi, tetapi juga menciptakan ruang agar ilmuwan lain dapat tumbuh, terhubung, dan memperoleh kesempatan untuk berkontribusi.
Jejak Pengakuan Internasional
Kontribusi Sri Fatmawati dalam sains dan kepemimpinan telah mendapat lebih dari 30 pengakuan nasional dan internasional. Di antaranya adalah International Rising Talents L’Oréal–UNESCO for Women in Science, OWSD–Elsevier Foundation Award for Early-Career Women Scientists, Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award, Falling Walls International Female Science Talents, serta Dr. Willmar Schwabe Award.
Terpilihnya sebagai ISC Fellow menjadi babak baru dalam perjalanan tersebut.
ISC memandang para Fellow bukan hanya sebagai pakar di bidangnya, tetapi juga sebagai knowledge brokers yang mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan dunia. Mereka diharapkan ikut memperkuat peran sains dalam menjawab tantangan global dan memastikan bahwa ilmu pengetahuan digunakan secara bertanggung jawab untuk kepentingan bersama.
Prinsip itu sejalan dengan keyakinan yang selama ini dibawa Sri Fatmawati:
“Science is a way of humanity.”
Bagi Sri Fatmawati, nilai tertinggi sains tidak terletak semata-mata pada publikasi, sitasi, laboratorium, atau penghargaan. Ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika mampu memperbaiki kehidupan, memberdayakan manusia, membuka kesempatan bagi orang lain, serta membantu membangun masa depan yang lebih baik.
Karena itu, terpilihnya Sri Fatmawati sebagai Fellow Dewan Sains Internasional memiliki arti yang melampaui pencapaian individual. Ini adalah kisah tentang biodiversitas Indonesia yang memperoleh ruang dalam percakapan global, tentang perempuan Indonesia yang mengambil bagian dalam kepemimpinan sains dunia, dan tentang ilmu pengetahuan yang diarahkan kembali kepada kemanusiaan.
Dari laboratorium di Indonesia menuju jejaring ilmiah internasional, sebuah babak baru kini dimulai.
Sri Fatmawati membawa sains Indonesia ke panggung global—dengan pengetahuan sebagai kekuatan, kolaborasi sebagai jalan, dan kemanusiaan sebagai tujuan.
Untuk mengikuti kegiatan ilmiah dan kepemimpinan Sri Fatmawati:
Instagram: @srifatmawati_phd
LinkedIn: Sri Fatmawati, Ph.D.





