Harian Cakrawala – MALANG. Kemampuan membuat video yang menarik ternyata belum cukup untuk menjadi calon kompetitor kuat dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang Marketing Online. Pesan itu menjadi salah satu penekanan dalam seleksi calon peserta LKS Marketing Online SMK Telkom Malang yang berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Madani hadir sebagai juri sekaligus berbagi perspektif mengenai kompetensi yang perlu dimiliki calon digital marketer. Madani merupakan Praktisi Pemasaran & Vokasi, AI Visibility–GEO Educator, dan Sales Evolution Trainer yang aktif membawa isu pemasaran, penjualan, reputasi digital, serta visibilitas di era artificial intelligence melalui kegiatan edukasi dan materi publik.
Seleksi SMK Telkom Malang tidak semata-mata mencari siswa yang telah mahir. Sejak awal, skema seleksi dirancang untuk melihat potensi seperti keberanian, empati, cara berpikir runtut, kemampuan memahami pelanggan, serta kecepatan peserta dalam menyerap masukan. Pendekatan tersebut relevan karena sebagian peserta berasal dari kelas X dan XI yang belum seluruhnya mempunyai pengalaman pembelajaran pemasaran secara mendalam. Deskripsi Teknis Seleksi LKS Ma…
Para peserta sebelumnya mendapat tugas membuat brief produk dan konten video promosi. Produk yang digunakan berada dalam kategori aksesori gadget seperti TWS, powerbank, serta smartwatch atau smartband. Selanjutnya, peserta menghadapi praktik pelayanan penjualan dengan juri berperan sebagai calon pembeli.
Madani menilai bahwa konten digital yang menarik tetap penting, tetapi kemampuan memahami customer menjadi fondasi yang lebih menentukan.
“Digital marketing bukan kompetisi siapa yang paling jago editing. Pertanyaan pertama justru: siapa targetnya, masalah apa yang mereka hadapi, value apa yang kita tawarkan, dan setelah melihat konten itu kita ingin audiens melakukan apa,” ujar Madani.
Menurutnya, seorang calon digital marketer juga perlu membedakan antara feature, benefit, dan value. Kapasitas 20.000 mAh, misalnya, hanyalah fitur. Kemampuan mengisi perangkat beberapa kali adalah benefit. Sementara bagi pengemudi ojol, value-nya adalah kemampuan tetap menggunakan GPS, aplikasi order, dan komunikasi pelanggan selama bekerja.
Madani juga mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru menawarkan produk. Dalam praktik penjualan, kemampuan mengajukan pertanyaan dan mendengarkan justru dapat menentukan kualitas rekomendasi.
“Salesperson yang baik tidak datang dengan semangat ‘saya mau jual produk’, tetapi ‘saya ingin memastikan customer mendapat solusi yang tepat’. Ketika pola pikirnya berubah, cara bertanya, presentasi, handling objection, sampai closing juga ikut berubah,” katanya.
Sekolah Dorong Seleksi yang Objektif
Rahmat Dwi Djatmiko, S.Kom., M.M., Kepala SMK Telkom Malang:
“Kami ingin proses seleksi benar-benar membantu sekolah menemukan siswa yang bukan hanya mempunyai kemampuan teknis, tetapi juga memiliki potensi berkembang. Kehadiran juri eksternal memberikan perspektif tambahan agar proses pembinaan menuju LKS dapat dilakukan secara lebih objektif dan terarah.”
Guru Pembimbing, Rahardiyan Andzikriadi, S.S., juga diusulkan memberikan penekanan pada pentingnya proses pembinaan setelah seleksi.
“Seleksi bukan akhir. Setelah mendapatkan kandidat yang potensial, pekerjaan berikutnya justru pembinaan. Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap tugas, evaluasi, dan feedback adalah bagian dari proses menuju kompetisi.”
Salah satu peserta kelas XI RPL, Queensha Arthalita Nabila, mengaku proses seleksi memberi pengalaman berbeda karena peserta tidak hanya diminta membuat konten.
“Saya jadi belajar bahwa membuat promosi bukan hanya soal videonya menarik. Kita juga harus tahu siapa target pembelinya, apa kebutuhannya, dan bagaimana menjelaskan manfaat produk dengan bahasa yang relevan.”
Sementara peserta kelas X TKJ International Class, Stefania Andrea Singgih, menilai pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal marketing dari perspektif yang lebih luas.
“Buat saya ini pengalaman baru. Saya jadi tahu bahwa digital marketing juga membutuhkan kemampuan memahami orang, menyusun pesan, berkomunikasi, dan menerima evaluasi supaya bisa berkembang.”
Mencari Siswa yang Bisa Tumbuh
Dalam sesi sharing bertajuk “Dari Seleksi Sekolah Menuju Panggung LKS: Apa yang Dicari Juri dari Seorang Calon Digital Marketer?”, Madani mengenalkan empat pertanyaan sederhana untuk membaca potensi kompetitor: Can Sell, Can Think, Can Adapt, dan Can Learn.
Menurutnya, peserta dengan hasil awal paling rapi belum tentu mempunyai potensi perkembangan paling tinggi. Sebaliknya, siswa yang masih mempunyai kekurangan teknis tetapi mampu berpikir, menyesuaikan diri, dan memperbaiki performa setelah mendapat feedback dapat menjadi kandidat pembinaan yang menarik.
“Jangan hanya mencari siapa yang sudah terlihat hebat hari ini. Cari siapa yang paling layak dibina menjadi juara esok hari,” pungkas Madani.





