Wamendiktisaintek Dorong Kampus Gerakkan Ekonomi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam Peluncuran Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin (7/9/2026). (Foto: Pasha Yudha Ernowo/Infopublik/Igid)

Harian Cakrawala – Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Di tengah target pertumbuhan ekonomi nasional delapan persen pada 2029, kampus dituntut semakin relevan dengan kebutuhan pembangunan, dunia kerja, industri, serta penciptaan inovasi dan lapangan kerja.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan, perubahan tersebut membutuhkan model kepemimpinan perguruan tinggi yang tidak berhenti pada urusan akademik, tetapi mampu menghubungkan kapasitas kampus dengan agenda pembangunan nasional. “Pendidikan ini perlu ditempatkan sebagai infrastruktur strategis pertumbuhan,” ujar Fauzan, dalam Peluncuran Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki posisi penting dalam menyiapkan talenta, teknologi, riset, dan inovasi yang dapat memperkuat kapasitas produktif Indonesia. Karena itu, perguruan tinggi perlu mulai menggeser orientasi dari sekadar mengejar capaian akademik menuju pendidikan yang memberikan dampak nyata terhadap produktivitas, inovasi, daya saing industri, lapangan kerja, dan pembangunan.

Fauzan mengatakan, target pertumbuhan ekonomi delapan persen pada 2029 dan visi menuju Indonesia Emas 2045 menuntut peningkatan kapasitas produktif nasional. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi para pemimpin perguruan tinggi untuk tidak lagi menggunakan pola kepemimpinan yang berjalan seperti biasa.

Bonus demografi, lanjut dia, juga harus dijawab melalui transformasi sistem pendidikan. Besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung sumber daya manusia yang berkualitas. Sebaliknya, bonus demografi dapat menjadi persoalan apabila sistem pendidikan tidak mampu menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. “Jawaban untuk dapat berhasil dan tidaknya sebenarnya sangat tergantung kepada kualitas SDM. Ketika bicara tentang kualitas SDM, tentu akan dikembalikan kepada sistem pendidikan,” kata Wamen Fauzan.

Karena itu, Fauzan mendorong rekonstruksi model kepemimpinan perguruan tinggi agar pimpinan kampus mampu melihat kebutuhan pembangunan secara lebih luas dan menggerakkan sivitas akademika untuk ikut memberikan solusi.

Ia menilai, salah satu persoalan pendidikan tinggi saat ini adalah masih adanya kesenjangan antara pendidikan, kebutuhan ekonomi, dan pembangunan. Kompetensi lulusan belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan dunia kerja yang berubah cepat, sementara kontribusi perguruan tinggi terhadap produktivitas industri masih perlu diperbesar.

Kesenjangan juga terlihat pada hasil riset. Publikasi ilmiah, menurut Wamendiktisaintek Fauzan, perlu didorong lebih jauh agar dapat berkembang menjadi prototipe, diadaptasi, hingga dikomersialisasikan sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan perekonomian. “Ekosistem teknologi spin-off dan komersialisasi pengetahuan masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Kampus Harus Berkontribusi Terhadap Produktivitas Nasional

Fauzan menekankan, ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada jumlah mahasiswa, lulusan, program studi, atau publikasi. Indikator tersebut perlu dilengkapi dengan seberapa besar kontribusi perguruan tinggi terhadap produktivitas, inovasi, daya saing industri, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan.

Ia mencontohkan pengalaman pengembangan kelas profesional di bidang perikanan. Alih-alih hanya membuat konsentrasi akademik, perguruan tinggi dapat merancang kelas yang langsung berkaitan dengan kebutuhan industri, seperti bidang budi daya udang dan komoditas lainnya.

Pendekatan tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus bersentuhan langsung dengan industri. Sebagian peserta bahkan dapat berkembang menjadi wirausahawan setelah mengikuti program.

Bagi Fauzan, model seperti itu menunjukkan pentingnya menerjemahkan kebutuhan pembangunan menjadi kebutuhan talenta. Kampus harus mampu menyiapkan manusia, teknologi, dan riset yang dapat menjadi bagian dari mesin pencipta kapasitas produktif.

Selain memperkuat hubungan dengan industri, Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi antarkampus, terutama di daerah. Menurutnya, perguruan tinggi di suatu wilayah dapat membangun konsorsium sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi tersebut dapat membentuk ekosistem pendidikan tinggi yang berperan sebagai penggerak pembangunan daerah.

“Ekosistem penggerak pembangunan di daerah” menjadi salah satu arah yang perlu diperkuat, terutama karena komunikasi dan kerja sama antarperguruan tinggi masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Jaringan perguruan tinggi dengan pusat pengetahuan, teknologi, dan industri global juga perlu diperluas. Menurut Fauzan, jejaring internasional dapat menjadi modal untuk memperkuat kapasitas perguruan tinggi sekaligus memperluas peluang kolaborasi riset dan inovasi.

Karena itu, ketika berbicara mengenai universitas berkelas dunia, orientasinya tidak boleh hanya berkutat pada persoalan akademik. Perguruan tinggi juga harus mampu mentransformasikan keunggulan akademik menjadi sesuatu yang berdampak bagi pembangunan daerah dan masyarakat.

Fauzan juga mengingatkan pentingnya keberanian perguruan tinggi menghasilkan kebaruan. Ia mengutip gagasan Peter Thiel mengenai dua bentuk kemajuan, yakni horizontal progress dan vertical progress.

Kemajuan horizontal terjadi ketika sesuatu yang sudah ada direplikasi atau diperluas. Sementara kemajuan vertikal lahir ketika seseorang menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.

Menurut Fauzan, kedua bentuk kemajuan tersebut tetap dibutuhkan. Namun, perguruan tinggi tidak boleh hanya berada pada pola meniru apa yang telah dilakukan negara atau institusi lain. “Kita jangan berputar hanya pada horizontal progress, tetapi dituntut ketika bicara kebaruan, kita harus selalu bergerak, berinovasi, masuk pada wilayah vertical progress,” katanya.

Melalui AKPT, Fauzan berharap lahir model kepemimpinan perguruan tinggi yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Pimpinan perguruan tinggi diharapkan mampu membawa kampus keluar dari zona nyaman dan menghubungkan kekuatan akademik dengan kebutuhan nyata pembangunan Indonesia.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi salah satu penggerak peningkatan produktivitas, inovasi, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber

Pos terkait