
Modus Penipuan Semakin Beragam, Begini Cara Mengenali dan Menghindarinya
Sidoarjo, Harian Cakrawala — Modus penipuan terus berkembang mengikuti teknologi dan kebiasaan masyarakat. Pelaku tidak hanya mengandalkan pesan hadiah palsu atau tautan mencurigakan. Mereka juga dapat menyamar sebagai petugas bank, aparat, instansi pemerintah, kurir, bahkan orang yang dikenal korban.
OJK menilai masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena bentuk scam semakin beragam dan semakin sulit dikenali. Pada Agustus 2026, OJK menerbitkan Booklet Waspada Penipuan (Scam) Mengintai Kita, Ayo Lawan dan Hindari! sebagai bahan edukasi masyarakat.
Fenomena tersebut juga terlihat dari penanganan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Hingga 30 Juli 2026, IASC mencatat 636.014 laporan penipuan dan 145.061 nomor telepon yang masuk dalam laporan korban.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menghafal satu atau dua jenis penipuan. Hal yang lebih penting adalah memahami pola yang biasanya digunakan pelaku.
Penipu Memanfaatkan Kepercayaan dan Rasa Takut
Banyak penipuan bermula dari upaya membangun kepercayaan. Pelaku dapat mengaku sebagai petugas bank, polisi, pegawai pemerintah, perusahaan, teman, atau anggota keluarga.
Setelah itu, pelaku menciptakan situasi yang membuat korban sulit berpikir tenang. Mereka bisa mengatakan bahwa rekening bermasalah, identitas korban dipakai orang lain, paket bermasalah, atau korban terlibat dalam perkara pidana.
Polri juga mengingatkan masyarakat tentang perkembangan penipuan online melalui berbagai sarana komunikasi. Modus tersebut mencakup tautan palsu, toko online tidak resmi, investasi bodong, penyamaran sebagai orang dekat, hingga pencatutan identitas pihak tertentu.
Selain itu, pelaku sering memberi tekanan agar korban segera bertindak. Mereka ingin korban mengikuti arahan sebelum sempat memeriksa informasi.
Data Pribadi yang Benar Tidak Membuktikan Identitas Pelaku
Salah satu cara penipu membangun kepercayaan adalah dengan menyebut data pribadi korban.
Pelaku mungkin mengetahui nama lengkap, NIK, alamat, nomor telepon, atau informasi lain yang sesuai dengan identitas korban. Kondisi ini dapat membuat korban berpikir bahwa penelepon pasti berasal dari lembaga resmi.
Padahal, informasi yang benar tidak otomatis membuktikan identitas orang yang menghubungi.
Polresta Yogyakarta, misalnya, mengingatkan masyarakat tentang modus yang mengatasnamakan proses aktivasi Identitas Kependudukan Digital. Pelaku menghubungi calon korban melalui telepon atau WhatsApp, meminta NIK dan nomor KK, lalu mengarahkan korban membuka tautan atau menggunakan aplikasi tertentu.
Karena itu, ketika seseorang menyebut data pribadi dengan tepat, jangan langsung menganggap komunikasi tersebut resmi. Periksa identitas dan prosedur melalui sumber yang benar-benar bisa Anda percaya.
Video Call Bukan Jaminan Komunikasi Resmi
Perkembangan teknologi juga membuat penipu mampu membangun komunikasi yang terlihat lebih nyata.
Salah satu contohnya adalah penggunaan video call dengan mengatasnamakan aparat kepolisian. Jalahoaks Jakarta pada Agustus 2026 menemukan modus nomor WhatsApp yang mengaku sebagai Bareskrim Polri dan menghubungi warga melalui video call.
Hasil penelusuran Jalahoaks menunjukkan bahwa nomor tersebut bukan kontak resmi Bareskrim. Pelaku memanfaatkan video call untuk mencatut nama kepolisian dan meyakinkan calon korban.
Polda Metro Jaya juga mengingatkan masyarakat mengenai penipuan yang mengatasnamakan proses penyelidikan secara daring. Kepolisian menegaskan bahwa pelaku tidak dapat menjadikan Google Meet sebagai sarana resmi untuk melakukan penyelidikan, penangkapan, atau penggeledahan.
Karena itu, video call, seragam, logo, atau tampilan seperti kantor polisi tidak cukup untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar aparat.
Contoh Modus: Korban Dituduh Terlibat Perkara Narkoba
Salah satu pola yang perlu diwaspadai ialah penipuan yang mengaitkan korban dengan perkara narkoba.
Pelaku dapat menghubungi seseorang dan mengaku sebagai anggota polisi. Mereka kemudian menunjukkan seseorang yang mereka sebut sebagai kurir. Setelah itu, pelaku mengatakan bahwa kurir tersebut membawa narkoba atas nama korban.
Situasi akan terasa semakin meyakinkan ketika pelaku menyebut nama lengkap atau NIK korban. Padahal, korban sama sekali tidak pernah melakukan transaksi tersebut.
Di sinilah tekanan psikologis bekerja. Pelaku menciptakan rasa takut agar korban segera mengikuti arahan.
Karena itu, korban tidak boleh menjadikan tuduhan melalui telepon atau video call sebagai bukti bahwa sebuah perkara benar-benar ada. Hentikan komunikasi sementara dan lakukan verifikasi melalui saluran resmi.
Modus Bisa Berubah Mengikuti Teknologi
Penipu tidak selalu memakai pola yang sama.
Hari ini pelaku bisa mengaku sebagai polisi. Besok mereka dapat menyamar sebagai pegawai bank, petugas pajak, kurir, penyedia layanan digital, atau pejabat pemerintah.
OJK mencatat berbagai jenis scam yang menyasar masyarakat. Bentuknya mencakup perdagangan daring, pekerjaan, investasi, penyamaran sebagai pejabat pemerintah, serta penyamaran sebagai kerabat atau teman.
Teknologi kecerdasan artifisial juga membuka peluang bagi modus baru. Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa AI dapat meniru suara dan wajah seseorang serta menghasilkan video deepfake yang semakin sulit dikenali.
Artinya, masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan penampilan atau suara untuk menentukan identitas seseorang.
Kenali Pola Modus Penipuan Sebelum Mengikuti Instruksi
Ada beberapa tanda yang perlu membuat masyarakat berhenti sejenak dan melakukan pemeriksaan ulang.
Pertama, pihak yang menghubungi tiba-tiba membawa persoalan serius dan membuat korban takut.
Kedua, pelaku mengaku sebagai lembaga atau orang yang memiliki kewenangan.
Ketiga, pelaku menunjukkan bukti yang terlihat meyakinkan tetapi sulit diperiksa secara mandiri.
Keempat, pelaku menyebut data pribadi korban untuk membangun kepercayaan.
Kelima, pelaku meminta korban segera mengikuti instruksi tertentu.
Instruksi tersebut dapat berupa pemberian OTP, PIN, kata sandi, data identitas, kode QR, klik tautan, pengunduhan aplikasi, atau pengiriman uang.
Ketika beberapa tanda muncul sekaligus, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Jangan Berikan Data atau Ikuti Arahan Secara Spontan
Langkah paling sederhana adalah berhenti sebelum bertindak.
Jangan memberikan OTP, PIN, kata sandi, data perbankan, maupun informasi identitas kepada pihak yang belum terverifikasi.
Jangan pula memindai QR code atau mengunduh aplikasi atas arahan penelepon. Polda Metro Jaya menemukan bahwa modus penyidikan daring juga meminta korban memindai QR dan memberikan data perbankan.
Apabila penelepon mengaku berasal dari suatu lembaga, cari sendiri kontak resmi lembaga tersebut. Jangan memakai nomor atau tautan yang diberikan oleh orang yang sedang Anda curigai.
Untuk kepolisian, masyarakat dapat menghubungi Call Center 110 untuk memperoleh informasi, membuat laporan, atau menyampaikan pengaduan. Layanan tersebut tersedia secara gratis.
Jika Sudah Menjadi Korban, Bertindak Secepatnya
Masyarakat yang sudah mengalami penipuan perlu segera mengamankan akun dan menyimpan seluruh bukti komunikasi.
Simpan nomor telepon, tangkapan layar, rekaman percakapan, tautan, rekening tujuan, bukti transfer, serta informasi lain yang berkaitan dengan kejadian.
Untuk penipuan transaksi keuangan, OJK menyediakan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Korban dapat membuat laporan melalui portal resmi IASC dan juga membuat Laporan Polisi.
Kecepatan laporan sangat penting. Penipu dapat memindahkan dana melalui beberapa rekening dalam waktu singkat.
Karena itu, korban sebaiknya segera melapor setelah menyadari adanya penipuan. Langkah cepat dapat membantu lembaga keuangan mengambil tindakan terhadap dana yang masih berada dalam sistem.
Jangan Hanya Menghafal Modus, Kenali Polanya
Perubahan teknologi akan membuat modus penipuan terus berkembang. Cara yang digunakan pelaku hari ini belum tentu sama dengan modus yang muncul beberapa bulan kemudian.
Namun, pola manipulasi sering memiliki kemiripan. Pelaku membangun kepercayaan, menciptakan tekanan, memakai informasi yang membuat cerita terlihat meyakinkan, lalu mendorong korban mengambil keputusan dengan cepat.
Karena itu, kemampuan mengenali pola menjadi perlindungan yang lebih berguna daripada sekadar menghafal daftar modus.
Ketika seseorang tiba-tiba membawa masalah serius, mengaku sebagai pihak berwenang, menunjukkan bukti yang mengejutkan, lalu meminta korban mengikuti instruksi tertentu, berhenti sejenak.
Periksa identitasnya. Periksa prosedurnya. Cari saluran resminya. Jangan biarkan rasa takut menentukan tindakan.
Dengan kebiasaan tersebut, masyarakat memiliki bekal untuk menghadapi bukan hanya modus yang sudah dikenal, tetapi juga bentuk penipuan baru yang mungkin muncul bersama perkembangan teknologi.





