Harian Cakrawala – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra Barat. Salah satunya diwujudkan melalui program Mahasiswa Berdampak yang mengintegrasikan kepedulian sosial, solusi berbasis sains, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sebanyak 56 mahasiswa dari Universitas PGRI Sumatra Barat diterjunkan ke Desa Tambangan, Kabupaten Tanah Datar, untuk melakukan restorasi lahan pertanian sekaligus revitalisasi ekonomi lokal. Program ini difokuskan pada rehabilitasi lahan pascalongsor dan banjir yang sebelumnya merupakan lahan pertanian produktif siap panen.
Ketua Koordinator Kelompok Mahasiswa Universitas PGRI, Fajar Febrian Utami, menjelaskan bahwa bencana telah mengubah kontur tanah secara signifikan sehingga sulit ditanami kembali dengan metode konvensional. Karena itu, tim mahasiswa menerapkan teknik polikultur sebagai solusi adaptif untuk mengembalikan produktivitas lahan. “Kami ingin melalui restorasi ini, lahan pertanian tetap menjadi aset kelompok tani dan memberikan dampak berkelanjutan. Harapannya, ekonomi petani dapat pulih secara bertahap,” ujar Fajar dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Selasa (24/2/2026).
Teknik polikultur diterapkan dengan memanfaatkan media tanam campuran lima gerobak tanah, tiga karung kompos, sekam padi, jerami, abu jerami, serta 30 kilogram polybag. Komoditas yang ditanam meliputi mentimun, buncis, pare, dan tanaman hortikultura lain yang bernilai ekonomis dan cepat panen.
Pendekatan ini tidak hanya memulihkan struktur tanah berpasir akibat banjir, tetapi juga menghadirkan sumber pangan mandiri bagi masyarakat terdampak. Selain aspek teknis, mahasiswa turut memberikan pendampingan agar metode ini dapat direplikasi dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh kelompok tani.
Anggota Kelompok Tani Desa Tambangan, Indra Martinus, mengakui bahwa keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama pascabencana. Menurutnya, tanpa dukungan program tersebut, biaya pemulihan lahan bisa mencapai Rp4–5 juta. “Syukur alhamdulillah, dengan semangat mahasiswa membantu kami yang terdampak banjir. Kalau kami kerjakan sendiri mungkin butuh biaya besar. Ini kami hampir tidak mengeluarkan biaya, hanya tenaga dan kemauan belajar,” ujarnya.
Kelompok tani berkomitmen melanjutkan metode pertanian polikultur tersebut agar cakupan lahan produktif semakin luas. Semangat gotong royong antara mahasiswa dan masyarakat menjadi modal sosial penting dalam mempercepat pemulihan ekonomi desa.
Program Mahasiswa Berdampak di Sumatra Barat ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat. Tidak sekadar kegiatan akademik, tetapi solusi konkret berbasis ilmu pengetahuan untuk membangun ketahanan pangan dan mempercepat pemulihan pascabencana secara berkelanjutan.





