Harian Cakrawala – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat perlindungan kesehatan warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Kemenkes menyalurkan tambahan 137 ribu masker N95. Selain itu, Kemenkes memperkuat layanan puskesmas dan rumah sakit. Pemerintah juga memenuhi kebutuhan alat kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Kemenkes Salurkan Masker untuk Warga
Pemerintah berencana mendistribusikan hingga 500 ribu masker tambahan ke setiap provinsi terdampak karhutla. Hingga saat ini, pemerintah pusat telah menyalurkan 1.210.230 masker ke berbagai daerah.
Bantuan tersebut terdiri atas 1.001.680 masker medis 3-ply dan 208.550 masker KN95/N95. Jumlah ini belum mencakup persediaan dan distribusi masker dari pemerintah daerah.
Bantuan masker diharapkan dapat mengurangi paparan asap. Langkah ini juga penting untuk melindungi kelompok masyarakat yang rentan mengalami gangguan kesehatan.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk. Imbauan ini terutama berlaku bagi ibu hamil, lanjut usia, bayi, dan balita.
Jika harus keluar rumah, warga disarankan memakai masker N95 dengan benar. Masker harus menutup hidung dan mulut tanpa celah di bagian samping.
“Kalau tidak perlu, jangan keluar rumah, terutama balita, ibu hamil, dan orang tua. Kalau memang harus keluar, gunakan masker N95 dan pastikan dipakai dengan benar agar tidak ada celah dari sisi atas, bawah, maupun samping,” ujar Budi saat berkunjung ke Palangka Raya pada Jumat (23/10/2026), seperti dikutip dari rilis Kemenkes.
Bahaya Asap Karhutla bagi Kesehatan
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5. Partikel ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi penderita penyakit pernapasan.
Karena itu, warga perlu membatasi paparan asap dan memantau kondisi kesehatan. Segera cari pertolongan medis jika gangguan pernapasan semakin berat.
Puskesmas Perkuat Penanganan ISPA
Kemenkes mendorong tenaga kesehatan di puskesmas untuk meningkatkan edukasi tentang bahaya kabut asap. Petugas juga perlu menjelaskan cara memakai masker dan mengenali gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Puskesmas menjadi tempat pertama bagi warga untuk memeriksakan kesehatan. Fasilitas ini juga memberikan penanganan awal bagi pasien yang mengalami gangguan akibat paparan asap.
Menurut Budi, sebagian besar kasus ISPA dapat dirawat di rumah. Pasien perlu beristirahat dan minum air yang cukup. Namun, warga harus segera ke puskesmas jika mengalami sesak napas.
“Sebagian besar ISPA bisa dirawat di rumah dengan istirahat dan minum air yang cukup. Namun, kalau mulai mengalami sesak napas, segera datang ke puskesmas,” jelas Budi.
Pasien dengan kondisi lebih berat membutuhkan penanganan lanjutan di rumah sakit. Contohnya, pasien pneumonia atau penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang kondisinya memburuk.
Kemenkes juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan ketersediaan oksigen. Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan tabung oksigen bagi fasilitas kesehatan yang memerlukannya.
Rumah Sakit Siaga Hadapi Lonjakan Pasien
Kemenkes turut memperkuat kesiapan rumah sakit dalam menangani dampak kabut asap. Saat meninjau RSUD dr. Doris Sylvanus di Palangka Raya, Budi menerima laporan bahwa jumlah pasien meningkat hingga tiga kali lipat.
Rumah sakit masih memiliki kapasitas pelayanan. Namun, lonjakan pasien tetap perlu diantisipasi agar setiap orang memperoleh penanganan sesuai tingkat keparahan penyakitnya.
Kemenkes akan mempercepat pemenuhan ventilator dan alat kesehatan lainnya. Dukungan ini terutama menyasar rumah sakit kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Peralatan tersebut juga penting untuk menangani anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan berat.
Ketersediaan alat medis diharapkan membantu tenaga kesehatan menangani pasien selama kabut asap masih berlangsung.
Penanganan Karhutla Membutuhkan Kerja Sama
Budi menegaskan bahwa pemerintah perlu terus melindungi kesehatan warga selama kabut asap mengancam. Upaya ini harus berjalan bersamaan dengan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Lahan gambut menjadi salah satu perhatian utama. Api dapat bertahan di bawah permukaan gambut sehingga petugas lebih sulit memadamkannya. Hujan yang berlangsung secara berkelanjutan dapat membantu proses penanganan kebakaran.
“Kami bersama Dinas Kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit berupaya memastikan dampak kesehatannya seminimal mungkin. Masyarakat perlu mengurangi paparan asap, menggunakan masker dengan benar, dan segera mencari pertolongan jika mengalami gangguan pernapasan,” tutup Budi.
Melalui penyaluran masker N95 dan penguatan fasilitas kesehatan, Kemenkes berupaya melindungi warga terdampak karhutla di Kalimantan Tengah. Warga juga perlu membatasi aktivitas di luar rumah dan mengenali gejala gangguan pernapasan agar dapat segera memperoleh pertolongan.




