KLH Perkuat Pembasahan Gambut di OKI untuk Cegah Karhutla Berulang

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, turun langsung meninjau infrastruktur pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut di Distrik Simpang Tiga, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. (foto: Humas Kemen LH)

Harian Cakrawala – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui inovasi pembasahan kembali (rewetting) ekosistem gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air di lahan gambut sekaligus menekan risiko kebakaran berulang, terutama saat memasuki periode cuaca kering.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh, Jumhur Hidayat, meninjau langsung infrastruktur pembasahan gambut di Distrik Simpang Tiga, OKI, Minggu (1/11/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko serta Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru.

Jumhur mengatakan, pencegahan karhutla harus diperkuat melalui inovasi pengelolaan tata air dan keterlibatan berbagai pihak di tingkat tapak. Salah satunya dengan memanfaatkan aliran sungai, pompa, dan sekat kanal untuk menjaga gambut tetap basah.

“Semangat gotong royong ini harus terus diperkuat, tidak hanya dalam pemadaman, tetapi juga melalui upaya pencegahan, salah satunya dengan mengembangkan inovasi pembasahan kembali lahan gambut melalui pemanfaatan aliran air sungai, pompa, dan sekat kanal. Kami berharap penerapan sistem ini dapat diperluas secara berkelanjutan sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan pada masa mendatang dapat ditekan secara signifikan,” tutur Jumhur.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH/BPLH, Edy Nugroho Santoso, menjelaskan, sistem pembasahan memanfaatkan pasokan air dari Sungai Lumpur yang dialirkan secara gravitasi sejauh 13 kilometer.

Selanjutnya, air didistribusikan menggunakan empat unit pompa berkapasitas masing-masing 1 juta liter per jam. Pompa dioperasikan selama 20 jam per hari untuk menjangkau area target pembasahan hingga 23 kilometer melalui jaringan kanal dan parit-parit kecil.

Ketersediaan air tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menjaga kelembapan gambut, tetapi juga mendukung operasi pemadaman apabila terjadi kebakaran. Distribusi air melalui jaringan parit di area nonkanal diharapkan dapat memperluas jangkauan pembasahan.

Dalam peninjauan tersebut, Jumhur juga mengecek operasional pompa, kanal pembasahan, serta praktik penggunaan pompa pemadaman gambut bersama Tim Water Management PT Bumi Mekar Hijau.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Pompa Sambunesia karya Sambusir. Perangkat tersebut dilengkapi tiga fungsi nozzle, yakni untuk memadamkan api di permukaan, menjangkau api di dalam lapisan gambut, serta menyemprotkan air melalui sistem sprinkler.

Apresiasi untuk Masyarakat Peduli Api

Selain meninjau infrastruktur pembasahan gambut, Jumhur mengunjungi Desa Penyandingan, Kecamatan Tulung Selapan, untuk berdialog dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla.

Lebih dari 100 personel MPA telah berpartisipasi dalam operasi pemadaman selama lebih dari 50 hari, sejak 5 September hingga 26 Oktober 2026. Mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber air, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, cuaca panas, serta karakteristik lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus.

Berkat kerja keras petugas dan sinergi lintas sektor, operasi tersebut berhasil menangani kebakaran pada areal sekitar 2.000 hektare.

“Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak, mulai dari Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api yang telah bekerja keras dalam penanganan karhutla,” kata Jumhur.

Sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi para petugas, KLH/BPLH juga menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan bagi anggota MPA dan masyarakat setempat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengantisipasi kelelahan serta dampak paparan asap selama operasi penanganan karhutla.

Kepala BPGMN, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan, koordinasi pemerintah pusat dan daerah perlu terus diperkuat agar upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla berjalan konkret dan terarah.

Salah satu prioritasnya adalah memperkuat peran desa sebagai garda terdepan pengendalian karhutla melalui pemetaan wilayah rawan, inventarisasi, serta perbaikan infrastruktur pembasahan gambut, termasuk sekat kanal dan sumur bor, terutama di kawasan gambut kritis.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengurangi kewaspadaan meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

“Kita tidak boleh lengah meskipun sekarang sudah mulai turun hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, masih ada potensi cuaca kembali kering sehingga penanganan karhutla melalui berbagai upaya tetap harus dilanjutkan,” tegas Herman.

Pemerintah terus memperkuat pengendalian karhutla melalui penerapan teknologi tata air, operasi modifikasi cuaca, dan peningkatan kesiapsiagaan di wilayah rawan kebakaran.

Melalui langkah terpadu tersebut, pemerintah berupaya melindungi masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis gambut agar tetap lestari dan terhindar dari kebakaran berulang.

Sumber

Pos terkait