Artificial Intelligence dapat membantu sebagian aktivitas sales dan marketing, tetapi penjualan tetap membutuhkan kemampuan manusia dalam memahami konteks, berempati, bernegosiasi, membangun hubungan, dan menciptakan kepercayaan.
Harian Cakrawala – KEBUMEN, 12 Agustus 2026 Perkembangan Artificial Intelligence dan perubahan perilaku pelanggan tidak menghilangkan dunia retail. Perubahan tersebut justru mendorong evolusi kompetensi yang perlu dikuasai generasi muda.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Madani di hadapan siswa kelas X Bisnis Retail SMK Negeri 1 Ambal dalam kegiatan bertema “Semua Orang Itu Jualan Yang Membedakan Hanya Siapa yang Mampu Menciptakan Nilai.”
Apakah AI Akan Menggantikan Sales dan Pekerja Retail?
AI kini mampu membantu membuat konten, menyusun caption, menganalisis informasi, mengembangkan visual, menyiapkan presentasi, serta membuat draft penawaran.
Di sisi lain, cara pelanggan membeli juga berubah.
Pelanggan dapat menemukan dan membandingkan produk melalui TikTok, Instagram, marketplace, mesin pencari, video ulasan, live commerce, dan percakapan dengan AI sebelum datang ke toko.
Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai masa depan sales dan retail.
AI Menggantikan Sebagian Tugas, Bukan Seluruh Nilai Manusia
Menurut Ahmad Madani, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya apakah AI akan menggantikan manusia.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah:
“Bagian pekerjaan apa yang dapat dibantu AI dan nilai manusia apa yang harus semakin diperkuat?”
AI mampu mempercepat pekerjaan. Namun, proses penjualan dan pelayanan tetap memerlukan manusia untuk membaca konteks, mendengarkan, berempati, bernegosiasi, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan.
“Generasi muda tidak cukup hanya belajar menggunakan teknologi. Mereka perlu belajar berkolaborasi dengan teknologi tanpa kehilangan kemampuan manusianya,” kata Ahmad Madani.
Pelanggan Sudah Mencari Informasi sebelum Datang ke Toko
Pada masa lalu, pelanggan datang ke toko untuk mendapatkan informasi dari salesperson.
Kini proses pembelian sering dimulai jauh sebelum pelanggan memasuki toko.
Pelanggan telah membaca ulasan, membandingkan harga, menonton video, memeriksa marketplace, dan mencari rekomendasi melalui media sosial.
Akibatnya, salesperson tidak cukup hanya menguasai informasi dasar produk.
Mereka perlu mampu memberikan konteks, membantu pelanggan memilih, menjawab keraguan, dan menciptakan pengalaman yang tidak diperoleh pelanggan hanya melalui layar.
Smartphone telah menjadi etalase.
Media sosial menjadi ruang edukasi dan interaksi.
Live commerce menjadi tempat transaksi.
AI menjadi alat bantu produktivitas.
Kompetensi Apa yang Dibutuhkan Retail Masa Depan?
Perubahan perilaku konsumen membuat tenaga retail dan sales memerlukan kompetensi baru, antara lain:
- content creation;
- social selling;
- live commerce;
- personal branding;
- digital communication;
- customer experience;
- pemanfaatan data;
- dan Artificial Intelligence.
Namun, kemampuan teknologi tersebut harus diperkuat oleh kompetensi manusia:
- mendengarkan;
- empati;
- observasi;
- komunikasi;
- negosiasi;
- problem solving;
- dan membangun kepercayaan.
AI dapat membantu membuat draft caption, tetapi manusia harus memahami apakah pesannya sesuai dengan audiens.
AI dapat membuat visual, tetapi manusia perlu menentukan konteks dan tujuan.
AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi manusia bertanggung jawab atas keputusan dan hubungan dengan pelanggan.
Retail Berubah dari Menjual Produk Menjadi Menciptakan Pengalaman
Dalam retail modern, produk dan harga tetap penting. Namun, pengalaman pelanggan menjadi pembeda.
Pelanggan menilai bagaimana mereka dilayani, seberapa mudah proses pembelian, apakah rekomendasi yang diterima sesuai, dan bagaimana komunikasi setelah transaksi.
Karena itu, selling tidak berhenti pada closing.
Sales dan bisnis harus memastikan nilai yang dijanjikan benar-benar diterima pelanggan.
Formula yang disampaikan Ahmad Madani adalah:
Selling = Menciptakan Nilai + Mengomunikasikan Nilai + Menyampaikan Nilai
Siswa Bisnis Retail Perlu Menjadi Pencipta Nilai
Ahmad Madani menegaskan bahwa siswa Bisnis Retail tidak hanya dipersiapkan menjadi penjaga toko.
Mereka mempelajari manusia, perilaku konsumen, komunikasi, pelayanan, teknologi, dan penciptaan pengalaman.
Keterampilan tersebut dapat digunakan dalam berbagai profesi, termasuk entrepreneur, marketer, content creator, salesperson, customer experience officer, dan business development.
Masa Depan Terbuka bagi Mereka yang Memahami Manusia dan Teknologi
Retail tidak hilang.
Retail berevolusi mengikuti perubahan teknologi dan perilaku pelanggan.
Tenaga retail masa depan bukan hanya orang yang menjaga transaksi. Mereka harus mampu memahami kebutuhan, menggunakan data, berkomunikasi melalui kanal digital, memanfaatkan AI, dan menciptakan pengalaman pelanggan.
“Teknologi akan berubah, tetapi manusia tetap mempunyai kebutuhan, masalah, dan harapan. Selalu ada ruang bagi orang yang mampu memberikan solusi dan membangun kepercayaan,” ujar Ahmad Madani.
Masa depan tidak hanya terbuka bagi orang yang mampu menggunakan AI.
Masa depan lebih terbuka bagi mereka yang mampu menggabungkan teknologi dengan empati, kompetensi, kreativitas, dan kemampuan menciptakan nilai.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran terbaik di Indonesia, dan content creator. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS-Dikmen bidang Pemasaran Digital Nasional.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.





