Harian Cakrawala – Tyasha Ayu Melynda Sari dan Tim dari Universitas Muhammadiyah Surabaya melakukan pengabdian di Keluraha Sawunggaling sebagai salah satu Kelurahan di Kecamatan Wonokromo dengan luas wilayah 150 m2 dan memiliki 86 RT 12 RW dengan jumlah penduduk sebanyak 25.838 jiwa.
Salah satu kecamatan yang terletak di kota besar, Kelurahan Sawunggaling tidak terlepas dari isu lingkungan salah satu terkait sampah rumah tangga yang bersamaan dengan peningkatan populasi. Pengelolaan sampah merupakan permasalahan yang masih sering dihadapi masyarakat, terutama akibat rendahnya pengetahuan dan kebiasaan dalam memilah sampah serta minimnya pemanfaatan sumber daya yang dapat didaur ulang. Solusi yang dapat diterapkan yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat yang menekankan kegiatan pemilahan, pengumpulan, penimbangan, dan penukaran sampah menjadi nilai ekonomi. Semakin banyak bertumpuk kertas, plastik, karet dan bahan anorganik lainnya, semakin riskan bumi terjaga kelestarian lingkungan
Kelurahan Sawunggaling RT 8 RW 6 memiliki kegiatan pelestarian lingkungan yang berbentuk Bank Sampah dengan nama Warinem Garbage Bank. Bank Sampah Warinem berdiri pada tahun 2025 dan diresmikan oleh Lurah Sawunggaling. Warinem Garbage Bank diketuai oleh Ibu Suryandari sampai saat ini beranggotakan 17 orang. Sampah-sampah yang dikumpulkan adalah sampah anorganik dan selama ini pengepakan dilakukan secara manual dengan menginjak botol oleh pengurus sebelum diserahkan kepada tengkulak. Minimnya tempat yang dimiliki oleh Warinem Garbage Bank membuat anggota bank sampah menumpuk sampah di lingkungan sekitar sehingga menyebabkan lingkungan yang tidak sehat.
Semangat pelestarian lingkungan yang terus digencarkan menjadi visi utama Warinem Gerbage Bank di RT 8. Walaupun pengumpulan sampah sudah dilakukan, masih tidak mampu meningkatkan pendapatan tambahan, hal ini dikarenakan anggota masih belum memiliki kreativitas dalam pengelolaan sampah menjadi produk bernilai tambah. Melalui pemanfaatan sampah anorganik berupa minyak jelantah sebagai bahan alternatif pemenuhan kebutuhan seperti sabun. Penumpukan dan penyimpanan sampah anorganik berupa plastik akan menyetorkan langsung kepada tengkulak dengan mendapatkan harga jual yang rendah. Proses pengepakan dan press secara manual dan diinjak kaki dan dibungkus dengan karung. Melalui mesin pencacah plastik mengubah plastik menjadi bahan baku yang dapat digunakan dalam berbagai industri sehingga harga jual sampah plastik menjadi tinggi dan penggunaan mesin press akan mempermudah anggota dalam proses pengepakan sampah plastik untuk mendukung upaya pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan diadakan pada tanggal 1 Agustus 2026 Pengelolaan keuangan selama ini dilakukan oleh bank sampah Warinem Garbage Bank sudah dilakuan namum masih belum sesuai standar. Laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM dapat membantu perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan SAK Umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal SAK EMKM memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan SAK dengan ketentuan laporan yang lebih kompleks.
Kegiatan ini mitra dijelaskan oleh pemateri yang dalam hal ini adalah dosen Prodi Manajemen UMSURA yaitu Ibu Nurullaili Mauliddah, S.Pd., M.SE terkait dengan pengelolaan keuangan bank sampah. Materi diawali dengan penjelasan terkait dengan konsep bank sampah, kegiatan bank sampah, dan laporan keuangan sesuai SAK EMKM. Laporan keuangan diawali dengan proses pertanyaan pencatatan yang sudah dilakukan, selanjutnya menjelaskan bagaimana pencatatan yang sesuai agar transparan dan akuntabel.
Tyasha Ayu Melynda Sari dan Tim dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengatakan ucapan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungan tahun pendanaan 2026 untuk terlaksananya kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat .





