Harian Cakrawala – Surabaya — Tren pangan sehat terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi yang lebih sehat. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga semakin memperhatikan komposisi, kandungan gula, keamanan, serta asal bahan baku produk pangan. Perubahan perilaku tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menghadirkan produk inovatif yang memiliki nilai tambah.
Salah satu isu yang semakin mendapat perhatian adalah konsumsi gula. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi free sugars kurang dari 10 persen dari total asupan energi harian, bahkan kurang dari 5 persen untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari sekitar 50 gram atau empat sendok makan per orang per hari. Kondisi ini mendorong berkembangnya inovasi produk pemanis dan pangan alternatif yang dapat menjawab kebutuhan konsumen.
Di tengah peluang tersebut, Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan sumber pati dari berbagai tanaman. Melalui penerapan teknologi pengolahan, pati dapat dikonversi menjadi gula cair yang mengandung fruktosa dan glukosa sehingga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian lokal.
Peluang tersebut dikembangkan oleh CV Inovasindo Berkah Bersama melalui produk Gulakong, gula cair berbasis pati tanaman yang dirintis oleh Dian Purwaningtyas, S.Si. sejak 2015. Produk ini dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku pati dan telah dipasarkan melalui berbagai kanal, termasuk pasar digital.
Kehadiran Gulakong menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat mengubah bahan baku lokal menjadi produk pangan bernilai tambah. Namun, inovasi produk saja belum cukup untuk menjamin keberlanjutan sebuah UMKM.
Naik Kelas melalui Teknologi dan Standardisasi
Seiring meningkatnya permintaan pasar, UMKM dituntut mampu meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan kualitas, keamanan, maupun efisiensi biaya. Pada pengembangan Gulakong, tantangan tersebut terutama berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi dan penguatan manajemen usaha.
Peningkatan kapasitas membutuhkan perbaikan peralatan dan alur proses produksi, pengendalian parameter proses, serta penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). Langkah tersebut penting untuk memastikan proses produksi berjalan lebih efisien dan menghasilkan mutu produk yang konsisten.
Aspek manajemen juga menjadi bagian penting. Peningkatan kapasitas produksi harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia, tata kelola usaha, pencatatan, serta strategi pemasaran agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Untuk mendukung transformasi tersebut, CV Inovasindo Berkah Bersama berkolaborasi dengan tim Universitas Surabaya (Ubaya) yang diketuai Dr. Emma Savitri melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjend Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Kolaborasi tersebut diarahkan pada penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi, standardisasi proses dan pengendalian mutu, penguatan manajemen serta sumber daya manusia, dan perluasan pemasaran digital.
Teknologi yang diterapkan disesuaikan dengan kebutuhan dan skala UMKM. Pendekatan ini penting agar teknologi tidak hanya canggih, tetapi juga mudah dioperasikan, mudah dipelihara, serta benar-benar memberikan dampak terhadap produktivitas usaha.
Pemasaran Digital Bangun Kepercayaan Konsumen
Peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan kemampuan UMKM menjangkau pasar yang lebih luas. Di era digital, media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, marketplace, dan berbagai kanal digital lainnya memberikan peluang besar bagi UMKM untuk membangun pasar.
Pemasaran digital tidak lagi sekadar menjadi sarana menawarkan produk. Kanal digital dapat digunakan untuk memberikan edukasi kepada konsumen mengenai bahan baku, karakteristik produk, cara penggunaan, proses produksi, mutu, hingga aspek keamanan pangan.
Strategi tersebut memungkinkan UMKM membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Informasi yang jelas dan edukatif dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus membangun kepercayaan terhadap produk lokal.
Bagi produk seperti Gulakong, pendekatan edukatif menjadi penting karena konsumen perlu memahami karakteristik gula cair berbasis pati serta bagaimana produk tersebut dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan pangan.
Hilirisasi Pati Menjadi Produk Bernilai Tambah
Pengembangan Gulakong juga menggambarkan besarnya peluang hilirisasi sumber daya pertanian Indonesia. Tanaman yang selama ini dikenal sebagai sumber pati tidak harus berhenti sebagai komoditas pangan dasar. Dengan penerapan teknologi yang tepat, pati dapat diolah menjadi bahan baku atau produk pangan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Keberhasilan hilirisasi tersebut membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Inovasi produk harus didukung teknologi produksi yang efisien, pengendalian mutu yang konsisten, manajemen usaha yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, serta strategi pemasaran yang mampu menjangkau konsumen.
Kolaborasi antara UMKM, perguruan tinggi, dan pemerintah menjadi salah satu kunci untuk membangun ekosistem tersebut. Perguruan tinggi dapat berperan dalam pengembangan teknologi, pendampingan, standardisasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia, sementara UMKM menjadi penggerak implementasi dan komersialisasi produk.
Tren pangan sehat pada akhirnya bukan hanya menciptakan perubahan dalam perilaku konsumsi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM. Pemanfaatan sumber daya lokal melalui inovasi teknologi dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat daya saing industri pangan nasional.
Gulakong menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi berbasis pati tanaman, dukungan teknologi tepat guna, standardisasi proses, penguatan manajemen, dan pemasaran digital dapat mendorong UMKM menuju usaha yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Gambar 1. Serah terima bahan baku produksi dari Tim UBAYA kepada Mitra Gulakong untuk mendukung keberlanjutan produksi

Gambar 2. Ragam produk Gulakong, inovasi sirup fruktosa oligosakarida dalam berbagai pilihan kemasan.

Gambar 3 Proses pendampingan Tim UBAYA kepada Mitra Gulakong dalam penguatan proses produksi dan pengembangan usaha





