Manfaatkan bahan organik lokal, teknologi Hugelkultur dorong pertanian berkelanjutan dan ketahanan tanaman menghadapi musim kekemarau.
Harian Cakrawala – MOJOKERTO — Upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong pertanian berkelanjutan terus dilakukan di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Surabaya (UBAYA) dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) kembali melakukan pendampingan kepada kelompok tani setempat dengan mengenalkan teknik budidaya Hugelkultur untuk tanaman jahe dan nilam.
Pendampingan ini menjadi bagian dari rangkaian pengembangan kapasitas petani yang sebelumnya telah mengenalkan sistem Smart Farming dan pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT). Kali ini, inovasi diarahkan pada pengelolaan media tanam dengan memanfaatkan sumber daya organik yang tersedia di lingkungan Desa Jatijejer.
Hugelkultur merupakan metode budidaya dengan memanfaatkan bahan-bahan organik seperti kayu, ranting, daun, dan material organik lainnya yang disusun menjadi media atau bedengan tanam. Material kayu yang berada di dalam tanah dapat berfungsi sebagai penyimpan air sekaligus sumber bahan organik dalam jangka panjang.
Penerapan metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanah dan mempertahankan kelembapan media tanam. Kondisi ini menjadi semakin relevan bagi petani Jatijejer karena ketersediaan air merupakan salah satu tantangan utama dalam budidaya tanaman, terutama ketika memasuki periode musim kemarau dengan curah hujan rendah.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi tanaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal,” ujar Ir. Dwie Retna Suryaningsih, M.P., Dosen Fakultas Pertanian UWKS sekaligus anggota Tim Pengabdian.
Menurutnya, pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar lingkungan pertanian dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan dari luar, metode tersebut juga mendorong petani untuk mengelola sumber daya organik secara lebih produktif.
Belajar dari Membuat Bedengan hingga Pemeliharaan
Dalam pelatihan tersebut, petani tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai konsep Hugelkultur, tetapi juga memperoleh pendampingan secara langsung mengenai tahapan penerapannya.
Pendampingan dilakukan mulai dari pemilihan dan persiapan bahan organik, pembuatan media atau bedengan Hugelkultur, persiapan bahan tanam, penanaman, pemeliharaan, pemupukan organik, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman.
Melalui praktik langsung, petani diharapkan dapat memahami bahwa keberhasilan metode Hugelkultur tidak hanya bergantung pada penyusunan bahan organik, tetapi juga pada pengelolaan tanaman secara menyeluruh.
Penggunaan bahan organik sebagai bagian dari media tanam juga diharapkan membantu menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih baik bagi tanaman. Kemampuan media dalam mempertahankan kelembapan menjadi salah satu aspek yang diharapkan dapat membantu tanaman bertahan pada kondisi ketersediaan air yang terbatas.
“Dengan penerapan Hugelkultur, petani diharapkan mampu menghasilkan tanaman dengan produktivitas yang baik sekaligus beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan, khususnya keterbatasan air pada musim kemarau,” kata Akhmad Wuliyono, Ketua Kelompok Tani Desa Jatijejer.
Jahe dan Nilam, Komoditas Potensial Desa Atsiri
Pemilihan tanaman jahe dan nilam bukan tanpa alasan. Kedua komoditas tersebut memiliki potensi ekonomi sekaligus berkaitan dengan pengembangan tanaman penghasil minyak atsiri yang tengah dikembangkan di Desa Jatijejer.
Jahe dikenal luas sebagai tanaman rempah yang digunakan sebagai bahan pangan dan berbagai produk olahan. Selain itu, jahe juga memiliki kandungan minyak atsiri yang berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Sementara itu, nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri bernilai ekonomi. Minyak nilam banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri parfum, kosmetik, aromaterapi, dan berbagai produk berbasis minyak atsiri.
Pengembangan kedua tanaman tersebut diharapkan dapat memperkuat diversifikasi komoditas atsiri sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Jatijejer.
Tidak hanya mengejar peningkatan hasil panen, program pendampingan ini juga diarahkan untuk membangun pola pertanian yang mampu memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan. Bahan organik yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi bagian dari sistem produksi pertanian.
Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat
Program pendampingan di Desa Jatijejer menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menerapkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat terdiri dari Marisca Evalina Gondokesumo sebagai ketua, bersama Azminah dari Fakultas Farmasi UBAYA, Grace Felicia Djayapranata dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika UBAYA, serta Dwie Retna Suryaningsih dari Fakultas Pertanian UWKS sebagai anggota.
Kolaborasi lintas bidang tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan penerapan teknologi budidaya, tetapi juga mendukung penguatan kapasitas masyarakat secara lebih menyeluruh. Teknologi pertanian, pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan usaha, hingga pengembangan komoditas menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem pertanian desa.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan pendanaan dan keberlanjutan Program PDB multitahun.
Menuju Desa Atsiri yang Mandiri dan Berkelanjutan
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat Desa Jatijejer dalam mengembangkan budidaya tanaman atsiri. Penerapan Hugelkultur menjadi salah satu langkah untuk memperkuat sistem budidaya yang memanfaatkan potensi lingkungan sekaligus merespons tantangan perubahan kondisi alam.
Ke depan, pengembangan jahe dan nilam diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi bahan baku. Dengan dukungan teknologi, penguatan kapasitas petani, pengembangan produk, serta kolaborasi berbagai pihak, komoditas atsiri dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat desa.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita menjadikan Desa Jatijejer sebagai Desa Atsiri pertama di Jawa Timur yang maju, produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Dari pemanfaatan kayu, ranting, dan daun yang tersedia di lingkungan sekitar, lahir sebuah inovasi sederhana dengan potensi besar. Hugelkultur bukan sekadar teknik budidaya, tetapi menjadi bagian dari perjalanan Jatijejer membangun pertanian yang lebih adaptif, mandiri, dan berbasis potensi lokal
Foto pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat

Teknik Hugelkultur

Pembersihan lahan

Panen Jahe






