Karya Hati Suhita Tembus Layar Lebar, Bangun Jejaring Lebih dari 200 Perempuan
Harian Cakrawala – JEMBER, 21 Agustus 2026 – Kiprah Khilma Anis dalam menggerakkan literasi, sinema, sekaligus pemberdayaan perempuan mendapat apresiasi. Novelis Hati Suhita tersebut meraih penghargaan Jawa Pos Radar Jember Awards 2026 kategori The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award.
Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan konsistensi Khilma sebagai salah satu tokoh inspiratif dari Jember yang mampu menjadikan karya sastra tidak hanya sebagai ruang kreativitas, tetapi juga medium dakwah, pengenalan budaya dan pesantren, hingga pemberdayaan perempuan.
Khilma mengaku bersyukur atas apresiasi tersebut. Menurutnya, penghargaan yang diterima bukan semata-mata capaian personal, melainkan buah perjalanan bersama banyak pihak yang selama ini ikut merawat dan mengembangkan karya-karyanya.
“Alhamdulillah, tentu saya bersyukur dan berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Jember atas penghargaan ini. Saya tidak pernah melihat karya-karya yang saya lahirkan sebagai capaian saya sendiri. Ada banyak orang yang membersamai, ada pembaca, keluarga, para santri, teman-teman perempuan yang menjadi agen dan mitra, juga orang-orang yang selama ini ikut merawat karya-karya tersebut,” kata Khilma.
Nama Khilma Anis dikenal luas melalui karya-karya sastra yang lekat dengan kehidupan pesantren, perempuan, budaya Jawa, dan nilai spiritual. Salah satu karya fenomenalnya, Hati Suhita, bahkan berhasil melampaui batas medium sastra.
Hati Suhita awalnya lahir sebagai cerita bersambung yang ditulis Khilma melalui Facebook pada 2019. Di tengah situasi politik yang memanas kala itu, Khilma memilih menghadirkan cerita yang lebih ringan kepada pembacanya.
Respons publik ternyata jauh melampaui perkiraannya. Jumlah pengikutnya meningkat drastis hingga sekitar 150 ribu. Cerita yang awalnya hanya terdiri atas 13 bab itu kemudian dikembangkan menjadi novel utuh sebanyak 33 bab yang diselesaikan dalam waktu sekitar tujuh bulan.
Perjalanan Hati Suhita berlanjut ke layar lebar. Novel tersebut diadaptasi menjadi film dan tayang pada 2023. Khilma bahkan terlibat dalam proses kreatif mulai penulisan skenario, pemilihan lokasi, hingga pemeran. Karya tersebut selanjutnya juga dikembangkan menuju format serial.
Bagi Khilma, perpindahan medium dari sastra menuju sinema bukan sekadar perluasan popularitas sebuah karya. Ada nilai dan pesan yang ingin dibawa kepada khalayak yang semakin luas.
“Bagi saya, menulis adalah bagian dari ngaji dan berdakwah. Ketika kemudian karya itu dibaca banyak orang, difilmkan, dan bisa ikut membuka ruang bagi perempuan untuk tumbuh dan mandiri, saya merasa karya itu menemukan jalan manfaatnya. Penghargaan ini justru menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar dan berkarya,” ujarnya.
Kekuatan karya Khilma salah satunya terletak pada keberaniannya menghadirkan dunia pesantren dari perspektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan, pesantren, tradisi Jawa, spiritualitas, dan pergulatan batin menjadi warna kuat dalam karya-karyanya.
Pengalaman tersebut tidak terlepas dari perjalanan Khilma yang bertahun-tahun mengenyam pendidikan pesantren. Ia merupakan alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dan Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.
Khilma juga berusaha menghadirkan wajah pesantren yang berbeda dari stigma sebagai ruang yang kuno, terbelakang, ataupun identik dengan dominasi laki-laki. Pengalaman hidupnya justru memperlihatkan bagaimana perempuan, termasuk para nyai, memainkan peran penting dalam kepemimpinan dan kehidupan pesantren.
Semangat pemberdayaan perempuan itu tidak hanya berhenti sebagai narasi dalam novel.
Dalam mengembangkan karya secara independen, Khilma membangun jejaring lebih dari 200 agen Hati Suhita yang seluruhnya perempuan. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Jawa, luar Jawa, bahkan hingga luar negeri seperti Malaysia dan Taiwan.
Khilma mendorong para perempuan yang menjadi mitranya agar memiliki kemandirian, baik secara mental maupun ekonomi. Dari ekosistem tersebut juga tumbuh berbagai produk kreatif seperti jilbab, mukena, tas, gelang, serta produk lain yang mengangkat unsur wayang dan tradisi Jawa.
Para mitra tersebut tidak semata diposisikan sebagai agen penjualan. Khilma mendorong mereka menjadi agen kebudayaan yang memahami karya, tradisi, pesantren, dan nilai-nilai yang berada di balik karya sastra yang mereka distribusikan.
Bagi Khilma, kemandirian perempuan tidak dapat semata-mata diukur dari kemampuan finansial. Perempuan harus memiliki kekuatan mental, ilmu, pengalaman, kebijaksanaan, serta kedalaman spiritual.
“Saya selalu percaya perempuan adalah soko guru, tiang penyangga keluarga dan masyarakat. Karena itu perempuan harus kuat. Kuat dengan ilmu, pengalaman, kemandirian, dan spiritualitas. Perempuan harus terus belajar, menjadi sumur sinaba, supaya kehadirannya selalu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya,” tegasnya.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam pemikiran Khilma mengenai perempuan Jawa. Ia kerap mengangkat nilai wanita, wani tapa, yakni keberanian perempuan untuk memiliki keteguhan dan ketenangan batin serta tetap terhubung dengan Sang Pencipta.
Direktur Jawa Pos Radar Jember Choliq Baya mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap konsistensi Khilma dalam berkarya sekaligus menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, perjalanan Khilma memperlihatkan bahwa sebuah karya dapat berkembang melampaui capaian personal seorang penulis.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Khilma Anis atas dedikasi dan konsistensinya selama ini. Khilma menunjukkan bahwa sebuah karya tidak berhenti pada prestasi personal. Dari literasi, karyanya bergerak ke sinema, membawa kekayaan pesantren dan budaya kepada publik yang lebih luas, sekaligus tumbuh menjadi gerakan yang ikut memberdayakan perempuan,” kata Choliq.
Menurut Choliq, kiprah tersebut menjadi dasar kuat bagi Jawa Pos Radar Jember Awards 2026 memberikan The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award kepada Khilma.
Terlebih, karya yang lahir dari seorang perempuan asal Jember itu kini mampu menjangkau pembaca dan penonton secara nasional sekaligus membawa nilai-nilai lokal ke ruang yang lebih luas.
“Khilma Anis adalah salah satu sosok inspiratif dari Jember yang karyanya telah menjangkau jauh melampaui daerah kelahirannya. Kami berharap Khilma terus melahirkan karya-karya berkualitas, terus menginspirasi, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia untuk berani berkarya, mandiri, dan memberikan kontribusi terbaiknya,” ujarnya.
Choliq berharap penghargaan tersebut tidak menjadi titik akhir, melainkan energi bagi Khilma untuk melahirkan lebih banyak karya dan memperluas dampak yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami ingin Radar Jember Awards menjadi ruang untuk memberikan apresiasi kepada figur-figur yang bekerja, berkarya, dan memberikan dampak. Semoga apa yang dilakukan Khilma menjadi inspirasi bahwa dari Jember kita bisa melahirkan karya, gagasan, dan gerakan yang memberi warna bagi Indonesia,” pungkasnya.
Penghargaan ini sekaligus menjadi penanda perjalanan Khilma Anis dalam mempertemukan tiga ruang yang selama ini digelutinya: literasi, sinema, dan pemberdayaan perempuan.
Dari dunia pesantren, karya itu bergerak menuju rak-rak buku, layar bioskop, hingga membentuk jejaring perempuan yang berdaya. Sebuah perjalanan yang sejalan dengan prinsip yang kerap disampaikan Khilma kepada generasi muda: klungsu-klungsu waton udu.
Sekecil apa pun karya yang dihasilkan, akan selalu memiliki arti ketika mampu memberikan sumbangsih dan manfaat bagi sesama.





