Proposal Penelitian Melonjak, Kemdiktisaintek Gandeng UBAYA Selenggarakan Seleksi dan Bimbingan Teknis Calon Reviewer Penelitian

Harian Cakrawala – SURABAYA – Jumlah proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang terus meningkat membuat kebutuhan reviewer penelitian semakin besar.

Pada 2026, lebih dari 100.000 proposal masuk ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Di sisi lain, jumlah reviewer yang tersedia masih terbatas sehingga beban penilaian proposal menjadi semakin besar.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kemdiktisaintek melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) menggandeng Universitas Surabaya (UBAYA) menyelenggarakan Seleksi dan Bimbingan Teknis Calon Reviewer Penelitian Batch 1 Tahun 2026 bidang Sosial Humaniora dan Pendidikan.

Kegiatan berlangsung secara luring di UBAYA pada 15–18 September 2026.

Direktur DPPM Kemdiktisaintek, Prof. Apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., mengatakan perekrutan calon reviewer diperlukan agar distribusi proposal yang dinilai dapat lebih merata.

“Jumlah proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terus meningkat, sementara jumlah reviewer masih terbatas. Karena itu, DPPM merekrut reviewer baru agar pembagian proposal lebih merata sehingga kualitas review dapat lebih baik,” ujar Prof. I Ketut.

Menurutnya, penambahan reviewer bukan sekadar untuk mengurangi beban kerja. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas proses penilaian proposal penelitian.

Reviewer Harus Objektif dan Independen

Prof. I Ketut mengatakan reviewer memiliki tanggung jawab akademik dalam menentukan kualitas proposal yang akan mendapatkan pendanaan.

Karena itu, calon reviewer dibekali kemampuan menilai substansi proposal, sekaligus pemahaman mengenai etika, integritas, dan tanggung jawab sebagai reviewer.

“Reviewer dalam menjalankan proses mereview harus dilakukan secara objektif, independen, dan profesional,” tegasnya.

Dalam melakukan penilaian, reviewer perlu memperhatikan sejumlah aspek, antara lain kesesuaian metode, kebaruan penelitian, peta jalan, Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), serta karakteristik masing-masing skema penelitian.

Reviewer juga diharapkan mampu memberikan masukan yang konstruktif kepada pengusul.

“Proses review tidak semata-mata menjadi tahap seleksi, tetapi turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas proposal dan penelitian,” jelas Prof. I Ketut.

Penguatan kapasitas calon reviewer, lanjutnya, juga diarahkan untuk membangun database reviewer yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Dengan kuatnya kapasitas dan database reviewer, kami berharap proses penilaian proposal penelitian dapat berjalan semakin berkualitas, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Etika Jadi Bekal Penting Reviewer

Tidak hanya kemampuan teknis, calon reviewer juga mendapatkan pembekalan mengenai etika.

Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Prof. Junaidi Khotib, S.Si., Apt., M.Kes., Ph.D., memberikan materi bertajuk “Etika Reviewer”.

Prof. Junaidi menekankan bahwa etika reviewer merupakan standar moral dan profesional yang harus diterapkan sejak penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, hingga perolehan luaran.

“Reviewer penelitian memiliki peran strategis dalam menjaga mutu penelitian, menjamin objektivitas dan integritas, menyelaraskan dengan prioritas nasional, serta membangun ekosistem reviewer berkelanjutan,” tegasnya.

Selama empat hari, peserta mendapatkan berbagai materi dari Tim Pakar DPPM Kemdiktisaintek. Mereka dipersiapkan untuk menilai kelayakan proposal, memonitor pelaksanaan penelitian, hingga mengevaluasi luaran penelitian.

UBAYA Dukung Penguatan Ekosistem Penelitian

Sebagai mitra penyelenggara, UBAYA memberikan dukungan sarana dan prasarana selama kegiatan berlangsung.

Mewakili Rektor UBAYA, Wakil Rektor II UBAYA, Dr. Noviaty Kresna Darmasetiawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kemdiktisaintek kepada UBAYA.

“Universitas Surabaya sangat mengapresiasi kepercayaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kepada UBAYA untuk menjadi mitra dalam penyelenggaraan kegiatan ini,” ujarnya.

Menurut Dr. Noviaty, keterlibatan UBAYA merupakan bagian dari komitmen universitas untuk berkontribusi dalam penguatan ekosistem penelitian dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Ia menilai peningkatan kualitas penelitian nasional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, reviewer, dunia usaha, masyarakat, hingga pemangku kepentingan lainnya.

“Reviewer bukan sekadar pihak yang memberikan penilaian terhadap proposal penelitian. Reviewer memiliki tanggung jawab akademik untuk memastikan penelitian yang didukung memiliki kualitas ilmiah yang baik, memiliki kebaruan, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa,” jelasnya.

Dr. Noviaty berharap kegiatan yang mempertemukan akademisi dan calon reviewer dari berbagai perguruan tinggi tersebut dapat membuka peluang kolaborasi baru.

“Semoga interaksi selama kegiatan ini dapat berlanjut menjadi kerja sama akademik, pertukaran gagasan, dan berbagai bentuk kolaborasi penelitian di masa mendatang,” katanya.

Kegiatan ini secara khusus ditujukan bagi calon reviewer bidang Sosial Humaniora dan Pendidikan. DPPM mengapresiasi dukungan UBAYA dalam penyediaan sarana dan prasarana sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan baik.

Melalui kegiatan tersebut, Kemdiktisaintek berupaya memperkuat jumlah sekaligus kapasitas reviewer agar proses penilaian lebih proporsional, objektif, profesional, dan akuntabel.

Penguatan reviewer ini diharapkan turut mendorong lahirnya penelitian yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pos terkait