Ubaya Dorong Kemandirian Ekonomi Orang Tua Siswa SLB Kirana Hati Bunda Lewat Pelatihan Wirausaha

Dari Dapur SLB Kirana Hati Bunda, Tumbuh Asa Wirausaha Orang Tua Siswa

Harian Cakrawala – Mojokerto — Tak harus dimulai dari modal besar. Bagi para orang tua siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Kirana Hati Bunda, langkah menuju kemandirian ekonomi justru diawali dari bahan pangan sederhana: singkong dan kacang-kacangan.

Melalui program pelatihan kewirausahaan yang digelar Universitas Surabaya (Ubaya), para orang tua siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai dunia usaha, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung proses mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Ubaya membangun kemandirian ekonomi keluarga melalui pengembangan usaha berbasis komunitas. Para orang tua yang tergabung dalam komite sekolah dibekali pengetahuan mulai dari membangun keberanian memulai usaha, menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), menentukan harga jual, hingga memproduksi dan mengemas makanan untuk dipasarkan.

Pelatihan diawali dengan materi mengenai intensi kewirausahaan. Peserta didorong untuk memiliki motivasi, kepercayaan diri, serta keberanian dalam melihat peluang usaha di lingkungan sekitar.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pemahaman mengenai penghitungan HPP dan penentuan harga jual. Materi ini menjadi penting bagi calon pelaku usaha karena kesalahan dalam menghitung biaya produksi dapat membuat harga jual tidak mampu menutup pengeluaran ataupun menghasilkan keuntungan.

Usai pembekalan, suasana pelatihan beralih ke praktik. Peserta dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan minat produk, yakni kelompok keripik singkong dan kelompok peyek.

Kelompok keripik singkong mempelajari seluruh tahapan produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku, penggunaan mesin perajang agar menghasilkan irisan yang tipis dan seragam, pencucian dan perendaman, proses penggorengan, hingga pengemasan.

Sementara kelompok peyek belajar mengolah adonan sekaligus mengembangkan variasi topping. Peserta mencoba membuat peyek dengan isian kacang tanah, kacang hijau, hingga udang ebi. Produk kemudian digoreng dan dikemas agar siap dipasarkan.

Bukan sekadar demonstrasi, peserta diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam setiap proses. Dengan demikian, mereka mendapatkan pengalaman nyata tentang bagaimana mengolah bahan sederhana menjadi produk yang berpotensi menjadi sumber pendapatan keluarga.

Ketua Tim Program Pendampingan Komunitas (PPK) Ubaya, Dr. Juliani Dyah Trisnawati, S.Si., M.M., SCM., CPPM., dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan kewirausahaan orang tua siswa SLB melalui pendekatan berbasis komunitas.

“Program ini diharapkan tidak hanya memberikan keterampilan kepada orang tua, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi keluarga melalui usaha yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.

Program tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Surabaya.

Tim pelaksana terdiri atas Dr. Juliani Dyah Trisnawati, S.Si., M.M., SCM., CPPM. dari FBE Ubaya sebagai ketua, Dr. Aniva Kartika, S.Psi., M.A. dari Fakultas Psikologi, Dr. Endah Asmawati, S.Si., M.Si. dari Teknik Informatika, serta Utomo dan Kartika Erawati dari LPPM Ubaya. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa  Andira Mahesa, Maria Carla Djawa dan Maria Christin.

Ketua Yayasan SLB Kirana Hati Bunda, Sri Sumarlik, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Ubaya. Menurutnya, manfaat program tidak hanya terlihat dari keterampilan membuat produk, tetapi juga dari perubahan sikap para orang tua.

“Dampak dari program juga sangat kami rasakan. Berhasil membentuk karakter positif bagi orang tua terkait kewirausahaan, membangun motivasi dan keberanian dalam memulai usaha. Ke depan, para orang tua SLB berharap bisa memiliki dan mengelola usaha secara mandiri,” kata Sri.

Menurut Sri, kemandirian ekonomi orang tua memiliki kaitan erat dengan kemampuan keluarga dalam memberikan dukungan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Ketika kondisi ekonomi keluarga semakin kuat, orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih optimal bagi tumbuh kembang dan masa depan anak.

Ia berharap program pendampingan semacam ini dapat terus memberikan manfaat bagi keluarga siswa SLB sekaligus membantu anak-anak berkebutuhan khusus mengembangkan potensi dan meraih cita-cita.

“Mendukung anak berkebutuhan khusus yang memang mempunyai keterbatasan, mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan,” ujarnya.

Pelatihan tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang rumit. Dengan bahan baku yang mudah diperoleh, keterampilan yang tepat, serta keberanian untuk memulai, para orang tua siswa SLB Kirana Hati Bunda mulai melihat kemungkinan membangun usaha secara mandiri.

Dari irisan singkong dan adonan peyek, tumbuh bukan hanya produk makanan, tetapi juga kepercayaan diri dan harapan baru untuk memperkuat perekonomian keluarga secara berkelanjutan.

Pos terkait