Harian Cakrawala – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mendukung pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional. KH Abbas merupakan ulama sekaligus pejuang kemerdekaan asal Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat.
Berkas pengusulan KH Abbas kini telah masuk daftar nominasi. Proses tersebut sudah melewati tahap penilaian dan tinggal menunggu keputusan Presiden.
Menag Dukung Pengusulan KH Abbas
Nasaruddin menyampaikan dukungan tersebut saat menerima keluarga besar Pesantren Buntet Cirebon di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Audiensi itu membahas rekam jejak perjuangan KH Abbas dan proses pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional.
Nasaruddin menyambut baik usulan tersebut. Ia menilai pemerintah perlu mengakui jasa berbagai tokoh dalam perjuangan kemerdekaan. Pengakuan itu juga harus mencakup para kiai dan santri.
“Iya, kan saya termasuk Tim 7 ya, untuk pahlawan nasional. Saya memang mengusulkan bahwa jangan hanya jenderal yang diusulkan pahlawan nasional, tapi kiai juga, dengan ketajaman penanya dan sebagainya. Apalagi Kiai Abbas,” tutur Nasaruddin.
Ia menjelaskan bahwa KH Abbas memiliki peran penting dalam menggerakkan perjuangan melawan penjajah. Salah satunya melalui rangkaian pertempuran 10 November di Surabaya. Peran tersebut menunjukkan kontribusi ulama dan jaringan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Keluarga Kumpulkan Bukti Sejarah Perjuangan
Moh. Mustahdi, cucu tertua KH Abbas Abdul Jamil sekaligus perwakilan Pesantren Buntet, berharap pemerintah segera menetapkan KH Abbas sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, sejarah perjuangan ulama dan pesantren perlu mendapat perhatian lebih luas.
“Utamanya sih dari pesantrennya sih, Kiai. Dari sekian banyak pahlawan kan pesantren itu hampir tak pernah dikedepankan akarnya. Padahal Diponegoro juga dari pesantren. Hampir semua pahlawan dari pesantren, tapi kayaknya tak tergali gitu mengenai asal-usul dari pesantren,” ungkap Mustahdi.
Mustahdi menjelaskan bahwa keluarga besar Pesantren Buntet telah mengumpulkan berbagai sumber primer. Bukti tersebut mencakup arsip sejarah dari Belanda dan catatan surat kabar sezaman dari Leiden.
Keluarga menggunakan dokumen tersebut untuk memperkuat bukti mengenai peran, kepemimpinan, dan kontribusi KH Abbas Abdul Jamil. Mereka ingin menunjukkan perjuangan tokoh tersebut melalui data sejarah yang objektif dan ilmiah.
Keluarga besar Pesantren Buntet berharap pemerintah terus mengawal proses pengusulan hingga mencapai penetapan resmi. Mereka juga menilai dukungan Kementerian Agama dapat memperkuat pengakuan terhadap kontribusi pesantren dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pesantren Buntet Kembangkan Pendidikan Tinggi
Selain membahas pengusulan Pahlawan Nasional, audiensi tersebut juga menyinggung pengembangan pendidikan tinggi di Pesantren Buntet. Pengurus pesantren memaparkan rencana transformasi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) menjadi Institut Buntet Pesantren.
Pihak pesantren juga meminta percepatan perizinan program studi baru. Beberapa program yang mereka ajukan meliputi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Inggris.
Nasaruddin menyambut baik rencana tersebut. Ia menyatakan kesediaannya membantu proses perizinan selama pihak pesantren memenuhi seluruh persyaratan administrasi.
Pada akhir pertemuan, Nasaruddin juga menyampaikan rencana kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Ia berencana melakukan silaturahmi balasan pada akhir November 2026.
Pengusulan KH Abbas Abdul Jamil menjadi salah satu upaya untuk mengangkat kontribusi ulama dan pesantren dalam sejarah bangsa. Kontribusi tersebut mencakup perjuangan fisik, pengembangan pendidikan, serta kehidupan keagamaan masyarakat.




