Peringati Maulid Nabi, Meutya Hafid Ajak Perkuat Akhlak di Tengah Krisis Moral Era Algoritma

Menkomdigi Meutya Hafid saat memberikan sambutan dalam kegiatan Santunan Yatim dan Kajian Islami dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid At-Taqwa, Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026) mengatakan perkembangan teknologi dan algoritma telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, serta mengambil keputusan. Karena itu, kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan nilai dan akhlak. Foto: Ahmad Tri Hawaari/Komdigi

Harian Cakrawala – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui siaran pers, Kamis (27/8/2026), menyampaikan bahwa Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak masyarakat memperkuat akhlak untuk menghadapi krisis moral di era algoritma.

Perkembangan teknologi dan algoritma semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Karena itu, penguatan akhlak menjadi hal penting dalam menghadapi era digital. Nilai akhlak dapat membantu memastikan teknologi memberikan manfaat bagi manusia.

Menurut Meutya, Maulid Nabi bukan hanya menjadi peringatan kelahiran Rasulullah SAW. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk meneladani sikap dan perilaku Rasulullah. Nilai tersebut dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai krisis moral di setiap zaman.

“Krisis moral terus terjadi di setiap zaman dengan tantangan yang berbeda,” ujar Meutya dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid At-Taqwa, Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).

Perkembangan teknologi dan algoritma telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, serta mengambil keputusan.

Karena itu, kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan nilai dan akhlak.

“Bagaimana caranya kita menang melawan krisis moral yang terjadi ditopang oleh algoritma di dunia digital yang mengganggu dan berdampak kepada warga se-Indonesia bahkan secara global? Jawabannya sudah ada, memperkuat akhlak,” tegas Meutya.

Menurut Meutya, prinsip akhlak dapat menjadi pijakan sederhana dalam melihat berbagai aktivitas di ruang digital.

“Ketika kita beraktivitas ataupun kita mengawasi ranah digital, yang paling utama kita lihat adalah apakah berakhlak atau tidak, melakukannya mendukung akhlak yang baik atau tidak,” ungkapnya.

Dalam konteks ranah Kementerian Komdigi, Meutya menekankan bahwa pembangunan konektivitas digital juga harus memiliki orientasi yang jelas, yakni menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena konektivitas bukan sekadar membuat masyarakat terhubung, melainkan harus mendorong pertumbuhan dan memastikan manfaatnya tetap terjaga.

“Ujungnya tentu harus berdampak. Kalau kita bangun tapi yang ada adalah hasil yang mudarat, jangan-jangan perlu di-rem saja. Kita tidak ada kewajiban harus membangun kalau ujungnya mudarat. Kita wajib membangun untuk kebaikan,” tandasnya.

Pembangunan ekosistem digital tidak boleh justru menciptakan dampak yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.

Meutya kemudian mengajak seluruh jajaran Komdigi memaknai pembangunan digital melalui tiga prinsip, yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga. Konektivitas digital harus menghubungkan masyarakat dan mendorong pertumbuhan yang positif.

“Dari terhubung harus ada tumbuh. Kemudian memastikan bahwa dampaknya positif. Jadi terhubung, tumbuh, terjaga,” tuturnya.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, Meutya mengajak jajaran Komdigi menjadikan empat sifat utama Rasulullah sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.

“Yakni siddiq jujur, amanah dipercaya, tabligh menyampaikan ajaran, fathanah cerdas. Tidak usah terlalu banyak menghafal. Kerja harus cerdas, kerja harus jujur, kerja harus amanah, kerja harus menyampaikan ajaran,” tandasnya.

Sumber

Pos terkait