BNPB Update Penanganan Karhutla dan Kekeringan di Indonesia

Petugas melakukan upaya pemadaman lahan seluas 55 hektare yang terbakar di wilayah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Minggu (30/8/2026)/ (Dok. BPBD Bulungan).

Harian Cakrawala – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) terus memantau kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia.

Pemantauan selama 24 jam berlangsung sejak Selasa (1/9/2026) hingga Rabu (2/9/2026) pukul 07.00 WIB. BNPB mencatat sejumlah kejadian yang masih menjadi perhatian. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan menjadi perhatian utama.

Kekeringan Berdampak pada Ratusan Keluarga

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan kondisi kekeringan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Kekeringan tersebut berdampak pada sekitar 456 kepala keluarga (KK) di Desa Babulu, Kecamatan Sebakung Jaya. Kondisi ini berlangsung sejak Senin (31/8/2026).

Pemerintah daerah bersama BPBD terus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Salah satu upayanya berupa distribusi air bersih.

Hingga saat ini, petugas telah menyalurkan 62.000 liter air kepada warga terdampak.

Karhutla Melanda Sejumlah Wilayah

Karhutla terjadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Api membakar sekitar 55 hektare lahan di Desa Sejau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, pada Minggu (30/8/2026).

Petugas masih menangani kebakaran tersebut. Api juga belum sepenuhnya padam.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menetapkan status siaga darurat sejak 20 Agustus hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini memperkuat penanganan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.

Karhutla juga melanda Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada Senin (31/8/2026). Api membakar sekitar tiga hektare lahan.

Petugas belum dapat memadamkan api secara optimal karena akses menuju lokasi cukup sulit. Titik kebakaran berada di Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja.

Vegetasi berupa semak dan ilalang kering turut mempercepat penyebaran api. Unsur terkait terus menangani kebakaran dengan mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan petugas.

Kondisi Karhutla di Parigi Moutong

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, karhutla membakar sekitar 3,5 hektare lahan perkebunan warga. Kebakaran terjadi di Desa Sausu Tambu, Kecamatan Sausu, pada Selasa (1/9/2026).

Sebagian besar area sudah terbebas dari api dan hanya menyisakan asap. Namun, petugas masih melihat asap dari satu titik di kawasan puncak hutan.

Titik tersebut berpotensi memunculkan api kembali. Pemerintah daerah terus memantau lokasi dan melakukan penanganan lanjutan.

Sementara itu, kebakaran lahan melanda Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (1/9/2026). Api membakar sekitar tiga hektare lahan.

Titik api berada di petak 1015 Perum Perhutani, Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur.

Petugas berhasil memadamkan api. Mereka tetap memantau lokasi untuk memastikan tidak ada titik api baru.

BNPB Ingatkan Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Memasuki periode kemarau, BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla. Risiko tersebut meningkat di wilayah dengan curah hujan rendah dan vegetasi kering.

Masyarakat juga perlu menghindari pembakaran lahan untuk membuka atau membersihkan area pertanian. Kondisi kering dapat membuat api cepat meluas dan sulit dikendalikan.

Masyarakat di wilayah kering dan rawan karhutla juga perlu mengikuti informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Warga dapat memantau perkembangan kondisi wilayah melalui BPBD setempat.

Perubahan cuaca dapat terjadi dengan cepat dalam dua hari ke depan. Masyarakat perlu mewaspadai hujan yang disertai angin kencang dan petir.

Imbauan Menghadapi Kekeringan dan Karhutla

Saat menghadapi kekeringan, masyarakat perlu menggunakan air secara bijak. Warga juga sebaiknya menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan prioritas.

Masyarakat dapat segera melapor kepada pihak terkait jika mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air.

Di wilayah rawan karhutla, masyarakat perlu menghindari kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan. Warga juga harus memastikan tidak ada api atau bara yang tertinggal setelah beraktivitas di luar rumah.

Jika menemukan titik api, masyarakat perlu segera melapor kepada aparat atau BPBD. Langkah cepat dapat membantu petugas menangani kebakaran sejak dini.

BNPB mengajak masyarakat memperkuat kesiapsiagaan sejak dini. Masyarakat dapat memantau kondisi lingkungan dan mengikuti informasi resmi kebencanaan.

BNPB juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Warga perlu meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan instansi berwenang.

Masyarakat sebaiknya memperoleh informasi kebencanaan dari sumber resmi. Sumber tersebut antara lain BNPB, BPBD, BMKG, dan instansi berwenang lainnya.

Kesiapsiagaan bersama membantu mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat.

Sumber

Pos terkait