Harian Cakrawala – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mendorong penguatan perlindungan permukiman rawan banjir di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh.
Keberhasilan tanggul Sungai Ladang Rimba sepanjang sekitar 400 meter melindungi SMP Negeri 1 Trumon Timur menjadi dasar untuk mengkaji penanganan serupa bagi kawasan yang masih terdampak banjir susulan.
Berdasarkan data per 3 November 2026, banjir susulan berdampak pada 222 kepala keluarga (KK) atau 794 jiwa di Gampong Lhok Raya, Cot Bayu, dan Padang Harapan. Sebanyak 58 KK atau 205 jiwa mengungsi di dua lokasi, termasuk bayi, balita, dan lansia yang membutuhkan perhatian khusus selama masa penanganan darurat.
“Pemkab Aceh Selatan agar menjamin kebutuhan dasar dan layanan kesehatan bagi 205 jiwa pengungsi dengan prioritas kelompok rentan,” tulis Kepala Posko Nasional Satgas PRR, Irjen Pol Wahyu Bintono Hari Bawono, melalui keterangan resmi, kegiatan saat memimpin tim monitoring dan evaluasi di Aceh Selatan, Jumat (6/11/2026).
Penanganan berlangsung dalam status tanggap darurat pada 30 Oktober–12 November 2026, melalui asesmen lokasi, pengoperasian dapur umum, dan penyaluran logistik BPBD. Satgas PRR merekomendasikan dukungan logistik dan peralatan dari BNPB, sekaligus meminta pemerintah daerah mengevaluasi kebutuhan perpanjangan status tanggap darurat sebelum masa berlakunya berakhir.
Di Gampong Cot Bayu, Satgas PRR mendapati air mulai surut, tetapi rumah warga masih tergenang sekitar 15–40 sentimeter. Kondisi tersebut memperlihatkan perlunya penanganan yang tidak berhenti pada bantuan darurat, melainkan dilanjutkan dengan pengurangan risiko banjir agar warga dapat kembali beraktivitas dengan lebih aman.
Untuk itu, Satgas PRR merekomendasikan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I mengkaji pembangunan tanggul dan normalisasi aliran Sungai Lae Soraya serta Krueng Trumon Raya. Kajian diarahkan untuk melindungi Lhok Raya, Cot Bayu, dan Padang Harapan, serta menjadi bahan usulan dalam Rencana Induk PRR Tahun Anggaran 2027.
Pengalaman penanganan di SMP Negeri 1 Trumon Timur menjadi salah satu rujukan. Sekolah yang terendam pada November 2025 tersebut semula diusulkan direlokasi, tetapi terkendala ketersediaan lahan. Setelah pengaman sungai dibangun di samping sekolah, lokasi dilaporkan tidak kembali mengalami banjir.
“Tanggul Sungai Ladang Rimba ±400 meter terbukti melindungi SMP Negeri 1 Trumon Timur sejak dibangun,” ujar Wahyu. Meski demikian, pemeliharaan tanggul tetap diperlukan agar fungsi perlindungannya terjaga.
Perlindungan tersebut mendukung kelanjutan revitalisasi sekolah melalui skema swakelola dengan waktu pelaksanaan 2,5 bulan. Namun, pekerjaan masih menghadapi hambatan pasokan material akibat banjir di kawasan Gelombang dan cuaca yang tidak menentu. Laporan juga mencatat dua gedung baru roboh sehingga kondisi dan penanganannya perlu dipastikan memenuhi standar keselamatan siswa serta guru.
Sedangkan, Kepala Data Posko Nasional Satgas PRR Kolonel Inf Tamimi Hendra Kesuma menambahkan, Satgas PRR merekomendasikan Kemendikdasmen memantau pekerjaan secara berkala dan mempertimbangkan penyesuaian waktu pelaksanaan sesuai kondisi lapangan. Pemda juga diminta membantu kelancaran distribusi material, melengkapi data pengungsi dan kerusakan fasilitas umum, serta menjaga fungsi tanggul.




